I am not sure what to write, but all i know is that i have to keep writing, or else i will become more insensitive, dumb, dull… And for sure, a good writing won’t be part of my work lately, with all the analysis, research, or scientific references. A big no. It’s simply what’s in my mind.
Yups, masih tentang nikah. Tentang masa depan. Hm, kalau jodoh sih sudah bukan tema lagi. Teringat kata-kata bijak seorang sahabat, “Janganlah mempertanyakan hal-hal yang sudah pasti ada (sudah diatur), seperti jodoh.”

Jadi, tema kali ini adalah “ibu rumah tangga atau wanita karier??!”
Berawal dari keinginan alamiah ingin punya anak-anak yang berguna bagi agama, bangsa, dan dunia; ditambah dengan keinginan menggebu-gebu untuk PTT, ambil spesialis, sekolah PhD ke luar negri, belajar ini itu, nulis ini itu; aku harus mengambil cermin dan melihat diriku.
Mampukah aku mempertemukan keduanya, keinginan alamiah dan keinginan menggebu itu? Punya anak yang soleh-solehah, berbakti dan pintar, sekaligus menjadi seorang spesialis kardiologi yang pi-ej-di dan serentetan pengalaman yang selalu menjadi impianku? Aku mempertanyakannya pada cermin itu: mampukah aku.
Aku, yang masih merasa sebagai seorang single-tasker. Tidak bisa melakukan banyak hal dengan baik dalam satu waktu. Bisa sih, tapi tidak maksimal, ditambah gerutuan, ditambah emosi yang mengganggu sekitar…. Aku, yang merasa sangat terganggu saat sedang menyelesaikan suatu hal, diganggu oleh hal lain. Aku akan otomatis teriak, “MENGKO SIK, TO!!” Lebih sering di dalam hati sih, tapi ekspresi wajahku tidak mungkin berbohong. Orang akan tahu, kemudian “THOK!!”, stampel itu mampir di jidatku, “Oh, sang single-tasker. Ngerjain dua hal sekaligus/ nyambi aja susah.”
Ditambah lagi aku yang sekolah kedokteran; terpapar pada banyak fakta mengenai fungsi otak yang berbau gender, ditambah lagi terpaksa nge-fans dengan banyak orang keren yang tampak sangat mulia (aku pengen kayak mereka!) dengan segala konsekuensi perjuangan menuju kemuliaan itu.
Ya, tentang otak. Kata literatur, perempuan lebih mampu menjadi multi-tasker dibanding lelaki, dengan bagian otak yang namanya corpus callosum yang lebih tebal pada wanita. ‘Jembatan’ itu memungkinkan terhubungnya kedua belah otak, jadi bisa ‘bolak-balik’, bisa diganggu sana-sini… Contoh sederhana adalah bisa ber-sms ria sambil mendengarkan curhat sahabatnya. Lha aku???!!! Tidak bisa! Berarti otakku otak lelaki, begitu? Sehingga aku tidak akan berhasil melakukan dua hal itu: mengasuh anak sekaligus berkarier? Atau, karena aku perempuan, pastilah bisa karena pastilah aku dikaruniai otak perempuan?
Kemudian tentang kemuliaan itu. Menjadi seorang ahli butuh perjuangan, dan itu artinya waktu, tenaga, dan fokus. Nah, fokus itulah yang dibutuhkan. Mana bisa fokus jika bayi menangis di rumah? Mana bisa fokus, balita di rumah melahap TV dengan rakus, mengukir dalam otaknya kultur yang semakin aneh dari TV?
Dari berdiri menatap cermin itu, aku melangkah keluar rumah, melakukan penelitian yang sama sekali tidak ilmiah, yang berjudul: “kesuksesan anak daribu yang seorang ibu rumah tangga; bukan wanita karier”. Hasilnya: sebagian besar anak-anak itu (semuanya teman-temanku) sukses . Hampir semuanya cerdas, berbudi luhur, berempati tinggi, dewasa, terampil, dan semua kualitas yang bisa ada pada manusia unggul. Sementara pada anak dengan ibu seorang wanita karier, hasilnya bervariasi: ada yang sukses, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang hancur.
Jumlah anak yang sukses dengan ibu seorang wanita karier memang cukup banyak walaupun tidak sebanyak jumlah anak yang sukses dengan ibu yang ibu rumah tangga. Kesuksesan anak dengan ibu wanita karier tentulah karena alasan sederhana ini: ibunya hebat! Wanita karier yang multi-tasker. Ibu rumah tangga yang produktif di luar; giat bekerja tapi tidak melupakan anaknya.
Ya, begitulah maksudku. Bisakah aku jadi wanita karier yang hebat itu, yang mampu ‘mencetak’ anak-anak yang sukses?
Mengenai kewajiban ibu mendidik anak bukanlah suatu mosi yang harus diperdebatkan. Boleh dengan filosofi, agama, maupun hati nurani, aku yakin semuanya satu suara: ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Apa yang dilakukan ibu, itulah yang akan terbentuk pada anak-anaknya. Apa yang diberikan oleh ibu, itu yang ditelan anak-anaknya, secara bulat-bulat.
Mengenai wanita karier pun bukanlah sebuah mosi debat di sini. Wanita karier bukanlah semata dalam rangka membantu perekonomian keluarga. Wanita karier lebih kepada aktualisasi diri, harga diri, dan memaksimalkan karunia Tuhan.
Aku yang sangat tidak pede bisa menjalani dua dunia sebagai “ibu yang pengasuh dan pendidik anak dengan penuh cinta” sekaligus sebagai “akademisi yang calon dokter ahli” berusaha mencari solusi. Mencari jalan tengah.
Ah, ah.. Aku tahu. Aku, dengan rencana awal: lulus dokter di usia 24 tahun, langsung lanjut PTT, sekolah PhD, sekolah spesialis, nglamar kerja bla bla bla, maka mengubah rencana menjadi: lulus dokter di usia 24 tahun kemudian menikah dan punya anak-anak bla bla, baru melanjutkan PTT, sekolah, sekolah, kerja.
Ya, benar. Impian wanita karier akan kutunda selama kira-kira sepuluh tahun setelah aku lulus dokter. Sepuluh tahun itu akan menjadi masa reproduksi. Inkubasi. Mengasuh anak, mendidik, mengajari, menanamkan nilai-nilai pada anak-anak. Dan lagi-lagi, dengan berbekal teori plastisitas otak, teori kepribadian, dan teori lain tentang tumbuh kembang anak, maka kematangan seorang anak dikatakan sudah sempurna saat usianya mencapai 3 tahun.
Nah, katakan aku ingin punya anak 3 orang, dengan jarak antarkelahiran 3 tahun maka aku butuh waktu 12 tahun sampai anak terakhir berusia 3 tahun. Ya, 12 tahun untuk mengentaskan anak-anak sampai usia yang menurutku bisa ‘dilepaskan’. Setelah itu baru aku merasa telah menunaikan kewajiban (=keinginan alamiah) untuk menjadi sekolah bagi anak-anakku. Sehingga aku bisa melanjutkan hidupku sebagai wanita karier, yang dimulai dengan sekolah spesialis, sekolah PhD, belajar ini itu, bekerja….
Nah, nah, kemudian aku harus menilai kembali perubahan rencana itu. Benarkah itu yang terbaik? Kalau ternyata ada yang lebih baik, apakah itu? Apakah aku tetap menjalani keduanya: berkarier mulai dari usia 24 tahun, sembari berproduksi dan mendidik anak-anak? Dengan kapasitas otak dan emosiku yang seperti ini, si single-tasker dan si pemarah dan si tidak sabaran?? Atau masih ada waktukah sampai nanti aku menikah, untuk mengubah single-tasker menjadi multi-tasker, pemarah menjadi penyabar??
Haruskah kutanya ibuku, sang wanita karier yang menurutku cukup mampu mendidik anak-anak menjadi seperti sekarang (yah, setidaknya kakak dan adikku), bagaimana tips dan trik melakoni kedua peran dengan mulus: ibu rumah tangga sang pendidik anak sekaligus wanita karier?
Ya, inilah pilihan. Pilihan untuk mengambil risiko jatuh karena duduk di dua kursi (yang hebatnya, banyak orang yang ternyata sukses duduk tanpa jatuh!), atau memantapkan hati memilih satu kursi itu?
