Aku stase bedah, sibuk sekalii

Posted on October 16th, 2009 in activities, current crushes, doctor's life, lovely family by kyoudai  Tagged , , , , ,

Dengan beranggotakan sepuluh orang koas bulan pertama di bedah, jadilah kami pasukan jaga dingdong alias sehari jaga sehari gak jaga.

Dengan demikian aku mencuekkan banyak teman-temanku, keluargaku di rumah, dan hobi menulisku. Oh, dan hobi tidurku. Oh ternyata yang terakhir masih bisa diselamatkan, karena aku pernah datang terlambat karena tidur panjang! Hina.

Minggu ketiga di stase bedah, aku merasa sudah mengalami banyak hal. Bukan, bukan berarti aku telah belajar banyak. Taulah, aku yang malas ini. Aku hanya melihat lebih banyak hal, menjahit sedikit, dan mengarang-karang jawaban untuk supervisor atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang ilmu bedah.

Banyak cerita di bedah. Ingin hati menuliskannya, namun terlalu lelah, ngantuk, atau sekedar malas.

Secara garis besar,

Bedah digestif: aku tidak mendapatkan apapun di sini. Hanya menyadari bahwa ternyata kejadian kanker saluran cerna cukup banyak. Sebagian besar pasien kanker saluran cerna berusia dewasa atau tua, tapi banyak baik pada laki-laki maupun perempuan…

Bedah plastik: mempesona! Ternyata bagian ini bukan bagian yang semata mengubah yang normal menjadi supranormal. Itu hanya pada bedah plastik kosmetik. Bedah plastik rekonstruksi berarti mengubah yang abnormal menjadi mendekati normal. Sungguh keren! Apa yang tubuh bisa lakukan, dan dibantu dengan tangan-tangan ahli bedah plastik!

Apa yang kulakukan di minggu ini? Aku ikut mengganti balut pasien luka bakar, patah tulang, luka baring.. Aku presentasi dan diskusi dengan para supervisor yang edukatif. Aku ikut visite dan mendengarkan ilmu. Alhamdulillah.

Bedah toraks vaskuler: sungguh aku tidak bisa melupakan saat-saat itu: pada operasi pemasangan katup jantung sintesis (valvuloplasty), jantung yang terpapar dunia luar itu terus berdenyut. Denyutannya teratur, seakan hendak melompat dari kandangnya yaitu rongga dada. Subhanallah. Tak sadar air mataku menetes. Entah kenapa. Begitu agung, jantung itu. Aku cinta jantung.

Aku pun pernah menjadi asisten sebuah operasi bernama AV-shunt. Analogi dari operasi ini adalah menyatukan dua buah pipa supaya alirannya lebih deras dan lumennya lebih besar. Indah!

Jaga UGD: Sejauh ini kegiatan yang paling menyenangkan di bedah adalah jaga UGD. Kita menerima pasien, menanyakan riwayat penyakitnya (anamnesis), kemudian melakukan pemeriksaan fisik. Apabila pasien mengalami luka terbuka, maka kita menjahitnya. Pengelolaan pasien dari awal sampai akhir boleh kita lakukan. Menyenangkan! Terlepas dari kelelahan fisik yang kadang meminta haknya untuk istirahat dan tidur panjang.

Bedah, still more to come!!!

Kemunduran Kronis

Posted on October 16th, 2009 in contemplations by kyoudai  Tagged , ,

Hari ini harus lebih baik dari kemarin, atau kamu akan merugi.

Kalimat itu sungguh sakti. Aku sungguh sebaliknya. Semakin hari semakin buruk. Boleh dibandingkan antara hari ini dan kemarin, atau minggu lalu, atau bulan lalu, atau tahun lalu, atau bertahun-tahun lalu. Rasanya semua memburuk.

Secara fisik aku menggemuk, ototku melunak. Secara mental aku semakin manja, tidak bertanggungjawab, dan malas. Secara keimanan, hm aku tidak berani merasa pernah tinggi atau baik. Secara sosial, temanku belum bertambah secara signifikan. Secara kedewasaan, aku masih saja tergantung pada orang lain untuk membangunkanku. Secara akademis aku semakin malas membaca teksbuk.

Jadi apa yang lebih baik pada diriku saat ini, dibanding masa SMP ku, atau saat aku di asrama ketika SMA, atau bahkan semester awal di kedokteran? Aku banyak melupakan nilai-nilai lama, aku melupakan idealisme. Aku melupakan impian-impian kerenku.. Aku lupa! Aku pelupa!

Cantik?!

Posted on October 16th, 2009 in contemplations by kyoudai  Tagged ,

Apa sih definisi cantik? Suatu hari seorang temanku datang dan berkata, “Ayu, kamu dandan dong. Biar jadi cantik. Aku mau lho, jadi konsultan kecantikan buatmu.”

Dan itu bukan yang pertama kali. Ada juga seorang teman yang berkata demikian, beberapa bulan atau tahun sebelumnya.

Bukan itu intinya. Aku hanya sedang ingin curhat, betapa mata adalah indra yang sangat diandalkan. Pandangan kasat mata adalah segalanya. Cantik berarti secara fisik menarik, baik itu wajah mulus, kulit putih, hidung mancung, badan langsing, atau apapun lah.

Aku gak tau kenapa pulang dari reuni, ada beberapa teman cewekku yang di-sms oleh teman-teman cowok. OH, aku tau. Karena beberapa teman cewekku itu cantik. Iya cantik.

Aku gak tau kenapa banyak teman cowokku memilih mengobrol dengan si ini atau si itu. Oh, aku tau. Karena si ini dan si itu lebih cantik. Iya, lebih cantik. Bahkan mereka tidak memberi kesempatan kepada cewek yang biasa-biasa saja. No, not a chance!!

Kata seorang temanku yang (menurut banyak cowok) cantik, “Bagaimana mungkin kamu membuat orang lain (cowok) mau ngobrol denganmu, jika tampilanmu tidak menarik.”

Kata temanku itu lagi, “Iya Ayu, aku juga dulu sepertimu. Berharap orang lain (cowok) menyadari kecerdasanku, kekerenanku, keasyikanku, dan segala kebaikanku. Berharap karena semua itu, orang lain (cowok) mau mencoba mendekatiku. Setidaknya ngobrol denganku.. Tapi ternyata memang penilaian pertama adalah dari penampilan kita. Tidak bisa tidak.”

Semakin hari, semakin kumengamati kenyataan itu. Saat reuni, saat lebaran, saat di rumah sakit. Komentar mayoritas orang (cowok), “Udah cantik, baik pula.” dan bukan sebaliknya “Udah baik, manis pula.”

Ya ya ya ya, setelah ini aku fitness, facial, perawatan wajah, biar jadi langsing, putih, mulus. Dan kita lihat hasilnya nanti…

Tapi kemudian, bahkan pada kondisi tercantikku sekalipun, tidak ada orang yang benar-benar tertarik padaku. Bukan aku mencari fans. Aku hanya mencoba menilai eksistensi diri. Sekaligus membuat prognosis mengenai cita-cita menikahku yang tidak boleh terlalu lama dari sekarang.

Hm, jadi pasti ada yang salah dengan kecantikan internalku. Inner beauty. Adakah di sana, di dalam diriku ini?

Sekarang dibalik… Apa sih ganteng?? Ganteng secara fisik menurutku terlalu relatif. Aku pernah bilang ada cowok pesek yang ganteng. Aku juga pernah bilang ada cowok yang guendut sebagai orang yang ganteng..

Apakah aku juga demikian, memuja manusia ganteng dan mendiskreditkan manusia yang tidak ganteng? Aku selalu berusaha membalik seperti ini, kapanpun aku merasa tersiksa ketika orang cantik yang kebetulan sedang bersamaku mendapat perhatian dari cowok dan aku dianggap tidak ada di situ. Tapi ternyata memang sulit.

Look is almost everything! Even for me who hates that statement!!

Haha, dunia memang gila.

Nguping Kamar Jaga Anestesi

Posted on September 8th, 2009 in trivias by kyoudai  Tagged , ,

Suatu malam ba’da tarawih di kamar jaga koas anestesi.

Teman: Pengen nonton film ik..

aku: Ayo,, ayo…

Teman: mm,,, nonton apa ya? Di laptopku ada apa ya..

aku: Aku ada film Twilight ni…

Teman: film apa itu?

aku: haaa? gak tau? itu lho, yang vampir-vampir, yang kisah cinta.. sempet heboh banget, pada bilang itu film bagus

Teman: ha?

aku: itu lho, yang pemain cowoknya guanteng banget, Edward Cullen, ceweknya juga cantik..

Teman: hm… iya sih pernah denger.. Hm..

aku: itu lho, yang diangkat dari novel. Jilid satu twilight, trus lanjutannya new moon..

Teman: oh,, iya pernah denger..

aku: Haaaa?? beneran gak tau ya?

Teman: enggak…

aku:

Baju Hijau

Posted on August 27th, 2009 in activities, doctor's life by kyoudai  Tagged , , ,

Baju hijau.. Setelan berupa topi, masker, atasan, celana panjang, dan sepatu. Semuanya hijau. Yah, kecuali sepatunya, eh bungkus kaki, yang warnanya biru tua. Baju hijau yang wajib dikenakan kalau mau masuk ke instalasi itu. Instalasi dengan suhu maksimal 17 derajat celcius. Ya, instalasi bedah sentral. Atau kamar operasi lainnya.

Baju hijau.. Ukuranmu bervariasi, mulai dari S sampai XL. Ada yang baru ada yang sudah tua dimakan zaman (dan sabun cuci!). Tapi baju hijau yang baik adalah yang disteril, bukan baju yang keluar dari tas para koas..

Baju hijau, di balikmu, semua orang jadi mirip. Hanya terlihat matanya.. Dan lengan. Tangan, kalau kami berjilbab. Mudah dibedakan bila pemakainya gendut, atau sangat tinggi, atau pakai kacamata. Selain itu? Kita semua tampak sama di balikmu.

Baju hijau.. Dokter atau profesor, perawat atau staf, koas atau mahasiswa keperawatan (sengaja), semua sama. Hijau. Tidak ada beda. Berbeda jika kami mulai bergerak. Dokter punya tugas sendiri, perawat pun demikian.

Baju hijau.. Sungguh adil. Sebuah analogi untuk persepsi yang menurutku patut ditiru. Bahwa semua orang sama, kecuali perilakunya. Bukan penampakannya, ganteng atau jelek, cantik atau item jerawatan, gendut atau ceking, tinggi atau pendek…

Baju hijau.. FYI, yang belum ngerti kenapa warnanya hijau, warna hijau dipilih karena menimbulkan rasa senang, bahagia, sehingga mengurangi stres operasi pada pasien. Syukur2 pada dokternya juga.

Baju hijau.. Kau setelan idolaku!

Dai, stase anestesi dan bedah bakal jadi asik nih. Amin.

Maaf ya, saya sedang hobi jaga…

Posted on August 16th, 2009 in doctor's life by kyoudai  Tagged , ,

Suatu siang aku membalas sms seorang sahabat, “susah ya punya teman baik hati yang pelayan masyarakat,” ketika dia butuh teman curhat.

Suatu hari pula aku pernah menitip pesan begini, “aku gak bisa ke kantor hari ini untuk ketemu mereka, salam aja ya,” ketika seorang teman mengingatkanku bahwa teman-teman dari Jepang selesai workcamp dan akan segera terbang kembali ke Jepang.

Sore kemarin aku juga segera merespon sms masuk, “wah selasa ya,, aku gak bisa, jaga. salam aja buat ponakanmu, cubitkan pipinya untukku,” ketika sahabatku itu mengajakku ikut acara aqiqah keponakannya.

Pernah pula aku mengatakan, “aku belum sempet ke kosmu untuk sungkem ayahmu, maaf ya. Jaga terus nih,” ketika ayah sahabat datang jauh-jauh dari Ternate ke Semarang.

Pada tetangga, aku bilang, “maaf ya saya tidak ikut membantu mempersiapkan tujuhbelasan sama sekali, saya jaga terus di rumah sakit,” aku tidak bisa ikut lomba-lomba atau bahkan malam tirakatan.

Kepada adikku tercinta pun aku bilang, “yah, nanti gak ketemu dong. jam 7 malam aku udah berangkat jaga lagi.. ” ketika jadwal waktu senggang kami hampir tidak pernah cocok, sekedar untuk bercanda saling mengejek “Genduuut!!”

Demikianlah kehidupanku sebagai koas neurologi yang hanya berdelapan, suatu massa di bulan Juli-Agustus di mana angkatan atas sudah selesai dengan massa koasnya, angkatan bawah masih berjuang dengan skripsi. Oh sepinya rumah sakit tanpa mereka!!… Oh sedihnya aku terlepas dari duniaku, kehidupan sehari-hariku…

*Ayu, mewakili teman-teman autisnya di tempat yang sama bernama kawah candradimuka rumah sakit pendidikan.

A Fine Line between This and That*

Posted on August 14th, 2009 in contemplations, doctor's life by kyoudai  Tagged , , ,

Stase neurologi, bukannya belajar pemeriksaan fisik, stroke, epilepsi, cedera medula spinalis.. Saya malah belajar alias mengamati bagaimana menentukan inilah saatnya mengutamakan kualitas hidup daripada kuantitas hidup; betapa waktu yang sedikit tapi bermakna lebih penting daripada hidup lama yang menyengsarakan. Bagaimana memastikan bahwa kita hanya bisa berdoa karena usaha sudah mencapai tingkat maksimal. Betapa saya melihat proses deteriorasi yang cepat, dari sehat menjadi sebuah hendaya besar.

Bahkan saya banyak belajar dari pasien. Saya tau, kalimat ini merupakan kalimat favorit koass dan semua calon dokter, “Pasien-pasien adalah guruku,” benar sekali! Bahkan juga belajar dari keluarga pasien. Mulai dari keluarga yang kooperatif, sampai yang sangat skeptis terhadap dokter (dan terpaksa ke RS karena mentok).

Ketika kita bilang ini sudah tidak bisa diperjuangkan, Allah berkehendak lain. Suatu hari ada seorang pasien dengan stroke perdarahan dibawa ke RS dengan penurunan kesadaran. Beberapa hari di RS, nafasnya semakin berat. Maka setelah diputuskan, pasien ini butuh dipasang airway definitif alias endotracheal tube. Waduh… artinya butuh ventilator, yang sangat jarang tersedia di ICU karena RS tempat saya belajar adalah RS favorit, sangat banyak pasiennya!! Walhasil ventilator itu tetaplah harus ada apapun yang terjadi. Maka ventilator digantikan oleh kami sang koas jaga. Yup, kami menjadi manual ventilator (versi saya), melakukan bagging (versi khalayak umum).

Selama 24 jam jaga itu, saya 3 kali bagging: sore, tengah malam, dan subuh. Bisa dibayangkan ngantuknya. Yah mungkin tidak terlalu mengantuk, tapi melakukan hal yang ritmis selama tiga kali dua jam sama dengan menginduksi kebosanan tingkat tinggi. Bicara soal filosofi, bagging adalah suatu tindakan penyelamatan nyawa. Bicara soal prakteknya, huah sungguh membosankan.

Jadilah saya tertunduk-tunduk di depan pasien yang napasnya sudah satu-satu. Tertunduk dan terpejam. Ngantuk!! Sementara keluarga pasien yang duduk mengelilinginya; suami, anak, dan anak, sibuk membaca QS. Yasin dan ayat-ayat lainnya dengan lantang namun sejuk. Mendamaikan hati. Mengharukan qalbu. Sayangnya kurang mampu membangkitkan pusat kesadaran di otak saya.

Beberapa waktu berlalu, tunduknya kepala saya semakin parah. Saya langsung berdiri, sambil tetap memompa. Bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, berharap mobilitas saya membangkitkan korteks otak saya. Beberapa menit, kemudian tertidur lagi. Iya, sambil berdiri. Teringat masa SMA, upacara bendera minimal 2 jam membuat saya menjadi seorang praktisi tidur berdiri. Hehe.. Akhirnya sang ayah alias suami pasien tidak tahan, “Sini mbak saya gantiin, mbak istirahat saja,”

“Ah enggak pak. Hadoh maaf ya pak saya malah ketiduran..” saya membantah, berusaha melek, dan terus memompa.

Bacaan ayat-ayat suci Al Quran terus berkumandang dari orang-orang yang tidak sedikit pun mengantuk itu; ayah, anak, dan anak. Saya? Di sebelahnya, tertunduk tidur beberapa detik sekali. “Sini mbak, saya saja. Sudah jam 1.30 lho, tadi katanya digantikan temannya jam 1? Mana, atau saya telponkan?”

Saya menolak lagi, “Sebentar lagi juga datang kok pak,” dan tertidur lagi. Di depan mata mereka.

Seakan tanpa lelah, seakan saat itu adalah pagi hari di mana matahari bersinar hangat dan bukannya tengah malam yang banyak nyamuk dan senyap, mereka terus berdzikir, membaca, menghayati…

“Orang tua kehabisan nafas bisa-bisanya kamu tidur. Itu orang lain yang bukan siapa-siapa aja melek!” sang ayah membangunkan anaknya yang tidak sengaja tertidur di sebelah saya, sambil menunjuk saya, orang-lain-yang-bukan-siapa-siapanya. Jleb, serasa merambat naik ke batang otak saya, suara ayahnya itu menohok, membangunkan saya. Aduh malunya saya yang lebih sering tertidur dibandingkan anaknya.

Hingga matahari terbit lagi esoknya, si pasien masih bertahan dengan napas satu-satunya. Siangnya pasien dipindah ke ICU dengan ventilator mekanik; Allahu Akbar. Baik untuk pasien karena bagaimanapun ventilator manual seperti tangan-tangan lemah kami tidak akan memberikan tekanan yang stabil pada paru pasien. Baik pula bagi kami yang artinya kami tidak perlu terkantuk-kantuk memompa. Sungguh egois, tapi memang itulah kalimat syukur kami.

Hari ini ingin sekali saya mampir ke ICU hanya untuk berucap terimakasih kepada keluarga pasien, betapa sabar dan tabahnya mereka. Memang Allah yang menentukan usia. Terus berdzikir dan berdoa mengiringi ibunda dan istri yang berjuang dengan napasnya yang terengah, dengan perdarahan masif di otaknya, bukan sebuah usaha menentang takdir. Apapun hasilnya, mereka selalu mengingat Allah, mendoakan si sakit. Bukan agar sembuh, melainkan agar Allah mendengar doa dan tangis mereka, sehingga memberi ketabahan di hati mereka; masihkah diizinkan bertemu dengan sang ibunda/ istri atau memang yang terbaik adalah berpulang. Sampai hari itu saat sang pasien dipindah ke ICU, Allah menunjukkan kuasa-Nya, bahwa memang belum saatnya untuk pulang, mungkin harapan untuk bertemu dengan keluarga masih ada.

Doa dan tangis mereka pun menembus hati saya, sang koas yang kebetulan jaga malam itu, yang terkantuk-kantuk dengan pompa napas di tangan. Semoga Allah memberikan ampunan padamu, ibu. Semoga Allah melimpahi kesabaran yang tiada putus untukmu, wahai ayah dan anak dan anak.

*masih bingung judul postingnya enaknya apa. Judul ini ngambil dari lirik Linkin Park, With You.

The Choice

Posted on August 7th, 2009 in contemplations by kyoudai  Tagged , , ,

I am not sure what to write, but all i know is that i have to keep writing, or else i will become more insensitive, dumb, dull… And for sure, a good writing won’t be part of my work lately, with all the analysis, research, or scientific references. A big no. It’s simply what’s in my mind.

Yups, masih tentang nikah. Tentang masa depan. Hm, kalau jodoh sih sudah bukan tema lagi. Teringat kata-kata bijak seorang sahabat, “Janganlah mempertanyakan hal-hal yang sudah pasti ada (sudah diatur), seperti jodoh.”

Jadi, tema kali ini adalah “ibu rumah tangga atau wanita karier??!”

Berawal dari keinginan alamiah ingin punya anak-anak yang berguna bagi agama, bangsa, dan dunia; ditambah dengan keinginan menggebu-gebu untuk PTT, ambil spesialis, sekolah PhD ke luar negri, belajar ini itu, nulis ini itu; aku harus mengambil cermin dan melihat diriku.

Mampukah aku mempertemukan keduanya, keinginan alamiah dan keinginan menggebu itu? Punya anak yang soleh-solehah, berbakti dan pintar, sekaligus menjadi seorang spesialis kardiologi yang pi-ej-di dan serentetan pengalaman yang selalu menjadi impianku? Aku mempertanyakannya pada cermin itu: mampukah aku.

Aku, yang masih merasa sebagai seorang single-tasker. Tidak bisa melakukan banyak hal dengan baik dalam satu waktu. Bisa sih, tapi tidak maksimal, ditambah gerutuan, ditambah emosi yang mengganggu sekitar…. Aku, yang merasa sangat terganggu saat sedang menyelesaikan suatu hal, diganggu oleh hal lain. Aku akan otomatis teriak, “MENGKO SIK, TO!!” Lebih sering di dalam hati sih, tapi ekspresi wajahku tidak mungkin berbohong. Orang akan tahu, kemudian “THOK!!”, stampel itu mampir di jidatku, “Oh, sang single-tasker. Ngerjain dua hal sekaligus/ nyambi aja susah.”

Ditambah lagi aku yang sekolah kedokteran; terpapar pada banyak fakta mengenai fungsi otak yang berbau gender, ditambah lagi terpaksa nge-fans dengan banyak orang keren yang tampak sangat mulia (aku pengen kayak mereka!) dengan segala konsekuensi perjuangan menuju kemuliaan itu.

Ya, tentang otak. Kata literatur, perempuan lebih mampu menjadi multi-tasker dibanding lelaki, dengan bagian otak yang namanya corpus callosum yang lebih tebal pada wanita. ‘Jembatan’ itu memungkinkan terhubungnya kedua belah otak, jadi bisa ‘bolak-balik’, bisa diganggu sana-sini… Contoh sederhana adalah bisa ber-sms ria sambil mendengarkan curhat sahabatnya. Lha aku???!!! Tidak bisa! Berarti otakku otak lelaki, begitu? Sehingga aku tidak akan berhasil melakukan dua hal itu: mengasuh anak sekaligus berkarier? Atau, karena aku perempuan, pastilah bisa karena pastilah aku dikaruniai otak perempuan?

Kemudian tentang kemuliaan itu. Menjadi seorang ahli butuh perjuangan, dan itu artinya waktu, tenaga, dan fokus. Nah, fokus itulah yang dibutuhkan. Mana bisa fokus jika bayi menangis di rumah? Mana bisa fokus, balita di rumah melahap TV dengan rakus, mengukir dalam otaknya kultur yang semakin aneh dari TV?

Dari berdiri menatap cermin itu, aku melangkah keluar rumah, melakukan penelitian yang sama sekali tidak ilmiah, yang berjudul: “kesuksesan anak daribu yang seorang ibu rumah tangga; bukan wanita karier”. Hasilnya: sebagian besar anak-anak itu (semuanya teman-temanku) sukses . Hampir semuanya cerdas, berbudi luhur, berempati tinggi, dewasa, terampil, dan semua kualitas yang bisa ada pada manusia unggul. Sementara pada anak dengan ibu seorang wanita karier, hasilnya bervariasi: ada yang sukses, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang hancur.

Jumlah anak yang sukses dengan ibu seorang wanita karier memang cukup banyak walaupun tidak sebanyak jumlah anak yang sukses dengan ibu yang ibu rumah tangga. Kesuksesan anak dengan ibu wanita karier tentulah karena alasan sederhana ini: ibunya hebat! Wanita karier yang multi-tasker. Ibu rumah tangga yang produktif di luar; giat bekerja tapi tidak melupakan anaknya.

Ya, begitulah maksudku. Bisakah aku jadi wanita karier yang hebat itu, yang mampu ‘mencetak’ anak-anak yang sukses?

Mengenai kewajiban ibu mendidik anak bukanlah suatu mosi yang harus diperdebatkan. Boleh dengan filosofi, agama, maupun hati nurani, aku yakin semuanya satu suara: ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Apa yang dilakukan ibu, itulah yang akan terbentuk pada anak-anaknya. Apa yang diberikan oleh ibu, itu yang ditelan anak-anaknya, secara bulat-bulat.

Mengenai wanita karier pun bukanlah sebuah mosi debat di sini. Wanita karier bukanlah semata dalam rangka membantu perekonomian keluarga. Wanita karier lebih kepada aktualisasi diri, harga diri, dan memaksimalkan karunia Tuhan.

Aku yang sangat tidak pede bisa menjalani dua dunia sebagai “ibu yang pengasuh dan pendidik anak dengan penuh cinta” sekaligus sebagai “akademisi yang calon dokter ahli” berusaha mencari solusi. Mencari jalan tengah.

Ah, ah.. Aku tahu. Aku, dengan rencana awal: lulus dokter di usia 24 tahun, langsung lanjut PTT, sekolah PhD, sekolah spesialis, nglamar kerja bla bla bla, maka mengubah rencana menjadi: lulus dokter di usia 24 tahun kemudian menikah dan punya anak-anak bla bla, baru melanjutkan PTT, sekolah, sekolah, kerja.

Ya, benar. Impian wanita karier akan kutunda selama kira-kira sepuluh tahun setelah aku lulus dokter. Sepuluh tahun itu akan menjadi masa reproduksi. Inkubasi. Mengasuh anak, mendidik, mengajari, menanamkan nilai-nilai pada anak-anak. Dan lagi-lagi, dengan berbekal teori plastisitas otak, teori kepribadian, dan teori lain tentang tumbuh kembang anak, maka kematangan seorang anak dikatakan sudah sempurna saat usianya mencapai 3 tahun.

Nah, katakan aku ingin punya anak 3 orang, dengan jarak antarkelahiran 3 tahun maka aku butuh waktu 12 tahun sampai anak terakhir berusia 3 tahun. Ya, 12 tahun untuk mengentaskan anak-anak sampai usia yang menurutku bisa ‘dilepaskan’. Setelah itu baru aku merasa telah menunaikan kewajiban (=keinginan alamiah) untuk menjadi sekolah bagi anak-anakku. Sehingga aku bisa melanjutkan hidupku sebagai wanita karier, yang dimulai dengan sekolah spesialis, sekolah PhD, belajar ini itu, bekerja….

Nah, nah, kemudian aku harus menilai kembali perubahan rencana itu. Benarkah itu yang terbaik? Kalau ternyata ada yang lebih baik, apakah itu? Apakah aku tetap menjalani keduanya: berkarier mulai dari usia 24 tahun, sembari berproduksi dan mendidik anak-anak? Dengan kapasitas otak dan emosiku yang seperti ini, si single-tasker dan si pemarah dan si tidak sabaran?? Atau masih ada waktukah sampai nanti aku menikah, untuk mengubah single-tasker menjadi multi-tasker, pemarah menjadi penyabar??

Haruskah kutanya ibuku, sang wanita karier yang menurutku cukup mampu mendidik anak-anak menjadi seperti sekarang (yah, setidaknya kakak dan adikku), bagaimana tips dan trik melakoni kedua peran dengan mulus: ibu rumah tangga sang pendidik anak sekaligus wanita karier?

Ya, inilah pilihan. Pilihan untuk mengambil risiko jatuh karena duduk di dua kursi (yang hebatnya, banyak orang yang ternyata sukses duduk tanpa jatuh!), atau memantapkan hati memilih satu kursi itu?

Membedakan Waspada dan Buruk Sangka

Posted on July 26th, 2009 in contemplations by kyoudai  Tagged ,

Aku punya gangguan dalam membedakan dua hal itu; waspada dan buruk sangka.

***

Aku sering mencampuradukkannya. Kupikir itu waspada, ternyata buruk sangka. Kupikir aku harus berbaik sangka, ternyata aku malah jadinya kurang waspada.

Contoh kejadian:

Ketika aku merasa gagal ujian aku mempersiapkan hati bahwa aku tidak lulus. Maka aku merasa hancur, merasa tak berguna atas apa yang telah aku lewati, bahwa aku tidak berusaha sungguh-sungguh. Aku menyetel diriku supaya menyesal. Aku menyetel diriku supaya tidak berbahagia lagi sampai aku lulus.

Ternyata…. Saat pengumuman, aku lulus. Langsung, aku merasa bersalah karena telah berburuk sangka. Yang kukira waspada akan kemungkinan terburuk yang terjadi yaitu tidak lulus ujian, malah ternyata sebuah buruk sangka. Aku cuma MERASA gagal, tapi tidak melakukan apapun. Hanya mengutuki diri. Buruk sangka… Terhadap siapa? Siapa lagi, Dia Yang Maha Adil.

Suatu saat aku berjalan di keramaian. Dan yang kuingat di pikiranku saat itu adalah aksonema penting itu, SEMUA ORANG ADALAH BAIK SAMPAI TERBUKTI TIDAK. Jadilah aku senyam-senyum. Eh tiba-tiba ada orang jahat mengambil tas yang terjatuh. Tasku! Langsung kalimat itu terngiang lagi, AH, PALING DIA NYIMPENIN, BIAR GAK DIAMBIL ORANG. Ternyata oh ternyata, orang itu kabur naik motor, ngebut, menjauh dariku yang melongo. Demikianlah kalau merasa diri harus selalu berbaik sangka alias khusnudzon, tapi malah tidak waspada. Tidak ada yang menyuruh untuk berburuk sangka bahwa akan ada orang jahat yang mendekati kita. Tapi penting untuk waspada, bahwa kejahatan sering muncul hanya bila ada kesempatan. Seperti tas jatuh.

Masih banyak contoh yang lain, baik yang pernah aku alami maupun yang aku lihat pada orang lain. Lain kali ya, lupa nih!

***

Nah, nah… Jadi, kutegaskan, bila kamu berbuat dalam rangka mempersiapkan hal terburuk, itu bagus, karena itu artinya kamu waspada. Jika kamu merasa akan terjadi hal terburuk, itu artinya buruk sangka. buruk sangka sama siapa?? Sama Tuhanmu!!!

Singkatnya, aku menyimpulkan bahwa waspada adalah tindakan, sedangkan buruk sangka adalah pikiran atau perasaan.

Jadi, ketika kita MEMIKIRKAN sesuatu yang buruk, itu artinya buruk sangka.

Namun ketika kita MEMPERSIAPKAN DIRI menghadapi sesuatu yang buruk, seperti MEMBAWA payung saat bepergian, MEMBAWA tas di depan badan bukan di belakang saat berjalan di keramaian, BERTANYA pada teman bagaimana caranya mengulang ujian walaupun pengumuman lulus ujian belum ada, adalah suatu kewaspadaan.

Memperbaiki Niat

Posted on July 26th, 2009 in doctor's life, self-motivating by kyoudai  Tagged ,

Suatu sore setelah pengarahan pre-stase baru, aku ngobrol dengan teman sekelompok koas tercinta,

Aku: Hadoh, uda mau stase baru aja. Harus memperbaiki niat nih.

Teman: Iya, ayo semangat.

Aku: Aku pengen tobat. Pengen serius belajar. Aku gak mau glundungan lagi ah; cuma lewat stase aja, buat syarat lulus dokter.

Teman: …….

Aku: iya kan? iya kan?

Teman: …….

***

Hm, dari tanggapannya, aku menyimpulkan bahwa kalimat keluhanku benar-benar sesuatu yang baru untuknya. Benar-benar tidak pernah terpikir olenya bahwa menjalani stase saat koas adalah hanya ‘lewat saja’, ‘yang penting lulus.’ Astaghfirullah, aku jadi malu sendiri.

Pengumuman resmi, dan renungan ^_^

Posted on July 25th, 2009 in contemplations by kyoudai  Tagged ,

Akhirnya saya beranikan diri menulis ini.

Adikku punya pacar. Aku tidak punya pacar. Ortu panik, anak gadis pertamanya (aku) bakal nikah ndak ya? Kalo iya, kapan, kok belum punya pacar?

Bukan, bukan mengeluh. Hanya ingin dunia tahu bahwa aku percaya Tuhan dan percaya akan kehendak-Nya bahwa semua Dia Yang Mengatur. Hehe, jadi aku tidak perlu lagi berkomentar terhadap ucapan seperti di atas.

***

Lalu, aku menyimpulkan bahwa orang yang banyak berkomentar cenderung kalah. Semakin banyak berbicara, semakin kecil kemungkinan untuk bertindak. Dia akan sibuk dengan omongannya sendiri. Sementara jika semakin jarang bertindak, maka semakin mungkin untuk kalah.

So, stop giving comment, just act! NOW!

*mungkin antara pengumuman dan renungan di atas berhubungan ya; aku tidak ingin banyak berkomentar tentang status jombloku, karena aku sedang berusaha memperbaiki diri. Amin*

Forensic doctor equals detective?!

Posted on July 21st, 2009 in current crushes, doctor's life by kyoudai  Tagged , , ,

Well, lately my lazy-based style of writing is just excerpting voices going on around me. Yeah, only conversations, sayings, and shouting, sometimes.

Okay, so here’s why we parallelize forensic doctor and detective. I heard these:

1. During an autopsy on a little girl died of smothering.

dr. SK, Sp.F: “Coba dilihat deh tu mukanya. Lebih gelap daripada badannya kan. Hm, *berpikir* pasti waktu meninggal posisi kepalanya lebih rendah dari badannya. Hm, *berpikir lagi* apa ditenggelamkan ya?!”

Beberapa menit kemudian polisi sang penyidik datang dan berkata, “oh ya Dok, sayalupa bilang. Seorang saksi bilang kalau mayatnya ditemukan di bak mandi dengan kepala di bawah”

2. During another autopsy on an unknown dead body, strongly suspected as a beggar.

dr. IW, future Sp.F: “Luka-lukanya kok kayak gini ya. Hm *mengerutkan dahi* kalo luka lecet geser pasti ada arahnya. Ini kok kayak gini… *berpikir lagi* Kayak digigitin hewan gitu. Gak mungkin terjadi pas masih hidup nih. Tapi warnanya merah.”

Kemudian sesuai dugaan, dipastikan luka tersebut memang luka perimortal, bukan terjadi sebelum meninggal atau sesudahnya. Tapi saat orang tersebut sudah meninggal dengan jaringan tubuh yang masih hidup.

Now I am wondering why we the-detective-story-lovers (you tell me: CSI, monk, detective conan, kindaichi, bones, numbers, sherlock holmes, etc) won’t even consider to major in forensic medicine for a specialty??!!

Sounds cool, having a working time as a riddle-solving time!

Oh life..

Posted on July 5th, 2009 in self-motivating, trivias by kyoudai

I chatted with my old crush, I met my old friends, I miss my friends in medschool. Well life is so dinamic I sometimes can’t catch it up. But, love it!

Dearest my future soulmate

Posted on June 30th, 2009 in contemplations, current crushes by kyoudai  Tagged ,

Aku tidak mengharapkanmu tampak ganteng

tinggi

atau putih

atau atletis.

Aku hampir-hampir tak peduli. Semoga.

Aku melihatmu sebagai sebentuk jiwa yang mulia

yang bersinar.

Sinarmu memancar terang benderang, membuat apa yang di luar pun ikut bersinar.

Membuat sekitarmu ikut merasakan hangatmu.

Kau pun akan selalu mampu membuatku jatuh cinta padamu setiap hari.

Entah itu karena senyummu, nasihatmu, atau bahkan mungkin amarahmu.

Kau, jiwa yang mulia itu, begitu kuat sinarnya, begitu lembut membelai jiwaku

yang kadang redup, atau bahkan kelam,

yang bahkan tidak mampu mewarnai bungkusnya, yaitu tubuh ini, dengan benar.

Aku ingin kita bersinar berdua dengan terang,

seperti sinar di ufuk sana, yang dari jauh pun telah tampak benderangnya.

Aku ingin kita berjalan bersama. Apabila aku agak lambat maka kuharap kau sabar menantiku, agar kita tetap berdampingan, menuju surga.

Aku mencari jiwa yang mulia itu. Ya, kamu. Kau pasti akan sangat terang, sangat jelas tampak di kejauhan, sehingga aku tak perlu repot merasa was-was atau ragu mempertanyakan apakah kau benar-benar pasangan hidupku.

Kau masih di suatu tempat kan, hingga aku tak melihat berkas cahayamu,

hingga di sini aku sendiri, bersimpuh dalam setiap solatku, memohon waktu yang tepat kepada Tuhan, untuk melihat sinarmu dan berlari ke arahmu, memohon kau persunting.

Iya, aku yakin. Suatu saat aku akan melihatnya.

Random Things Late at Night

Posted on June 29th, 2009 in contemplations, current crushes by kyoudai  Tagged , ,

Well yeah it’s been a while since I last wrote things in English. Well, it’s about me.I don’t see any improvement in me, while my target of either getting slimmer or having someone to marry is so close it makes me panic.

Haha, that is so lame, knowing that here I am, still the old me. Spending hours in front of facebook or of my getting-boring-blog-since-rarer-comments-show-up, or simply falling asleep in front of TV playing AXN or metroTV. Sure the earth revolves, just like the time. I just move like I am pushed to do so, there’s no choice. There’s no way to stop. That’s all.

Hey I am a true daydreamer, with all the good things in my head: getting degree of MD next year, being proposed by someone, having experience abroad with no money out of my pocket, writing books or articles or whatever-that-makes-me-proud-and-feel-capable, or just travelling around the beautiful Indonesia, or fluently speaking Arab and Japanese and German.

What makes people worthy??… I am here feeling unworthy. Regardless of what I am doing now: moving my rotation in the hospital from OB/GYN into forensics which is a total different way of life; enjoying being together with family and with my formerly-abandoned books like novels and comics; spending time making money by translating; listening to a good friend about her far-away-boyfriend and their long-distance relationship… Still, I feel empty inside.

I even blame my having a pre-menstrual syndrome, which has been a week and nothing happened. Not even a fluor. Hahah, sorry. And about the cliche thing they always tell me: remember Who Creates You. Yeah, that probably is the answer of why I feel so empty and unworthy inside.

Besides, I am questioning about how people get married. My religion said that there’s no way to have a relationship that contains showing affection to each other, going out together, and so forth before the two get married to each other. I said yes, I understand. But then again, it seems impossible, since one by one my idols start doing that: dating, having boy/girlfriend, or whatever that ruins the definition of “an Islamic way to start a family by doing a proper approach to the opposite sex”… At least, ruins my own definition of it.

Hah, so that’s the problem of why I feel bad of myself? That I am losing my grip on which I should believe, or that maybe it’s impossible to say “no” to dating or be in a relationship before someone get married while it’s been years for me to declare not to go out with someone before I get married to him?! I don’t think anyone would really want to hear this kind of stuff from me. That explains why I love writing in my getting-boring blog.

I know, I hate to be told of what I’ve known. I know, I know. It’s not that simple. It’s not that one is black and one is white.  Maybe there are things to consider, that’s why the future bride and groom have to go out together to find out.

Someone said to me, “I hate people going out”. Now I do agree on that! Just because I don’t have that someone or I keep blaming the world for telling me about that thing; “an Islamic way to start a family by doing a proper approach to the opposite sex”; while the world failed to show me how it factually works.

Someday I will be laughing at this posting for being so desperate. Someday when I’ve grown up.

Obgyn

Posted on June 25th, 2009 in doctor's life by kyoudai  Tagged ,

Hmph. Stase yang membuatku merasa harus mempertimbangkan untuk menjadi dosen atau peneliti dan bukannya klinisi!

Stase yang membuatku jenuh, ingin berlari, berteriak lantang, atau sekedar berbaring di lantai barang sejenak.

Stase yang membuatku berpikir apalah arti diriku. I’m unworthy… Insignificant… Invisible…. Mau makan aja merasa bersalah.. Mau solat harus celingak-celinguk, atau mepet waktu azan berikutnya.

Stase yang membuatku merindukan kasur, keluarga, dan kebebasan. Juga sinyal hp!

Stase yang melelahkan! Fisik dan mental.

Stase yang hampir membuatku menyerah; kayaknya enakan berhenti di sini.

Stase yang tetap aku anggap keren. Dengan orang-orang keren di dalamnya. Tapi bukan aku, bukan aku. Aku tidak ikut dalam kekerenan itu, jika aku harus miskin siraman sinar mentari, miskin kebebasan, miskin waktu luang untuk tidur atau ngenet. Tidak, terimakasih.

Salutku untukmu, bapak-bapak dan ibu-ibu para pejuang bagian besar itu. Doaku untuk kalian. Semoga selamat sampai akhir, semoga tidak menjadi cetakan arogansi yang terkenal itu. Buktikan bahwa mereka salah. Aku pada kalian!

Nguping VK Pagi

Posted on June 25th, 2009 in activities, doctor's life, trivias by kyoudai  Tagged , , ,

Di depan VK, habis operan jaga.

Ajeng: tumben ya tadi pas kita lapor, Pak J**o baik, ramah…

Aku: ya iyalah, habis solat sih.

Ajeng: *dahi berkerut*

Aku: Orang habis solat biasanya baik. Kan habis di-ground. Kayak EKG, habis di-ground kan jadi bagus to…

Ajeng: *bengong*

Nguping VK Lagi

Posted on June 25th, 2009 in doctor's life, trivias by kyoudai  Tagged , , ,

Suatu hari di kamar bersalin. Seorang bumil (ibu hamil) sedang dalam pengawasan oxytocin ditemani seorang koas.

Bumil: aduhh… Sakit…

Koas: …..

Bumil: Sakit, mbak….

Koas: Iya bu.. Sabar ya.. Tarik napas panjang…

Bumil: Ssssh… Sakit mbak, sakitnya kayak di…. Aduh.. Mm, kayak di….

Koas: (apa sih? kayak diremes-remes?!)

Bumil: Itu lho mbak, sakit banget kayak di….

Koas: *makin penasaran* (apa? kayak dipukul-pukul?)

Bumil: …. Kayak di-bendho* mbak!!

Koas: Waduw! (What the…. )

*Bendho: pisau besar; golok.

Nguping pasca-ujian

Posted on June 22nd, 2009 in doctor's life by kyoudai  Tagged , ,

Di UGD bagian kebidanan dan penyakit kandungan, tadi siang.

Residen idola#2: gimana dik ujiane?

saya: yah, gitu lah pak.

Residen idola#2: bisa?

saya: pertanyaannya cuma empat, saya gak bisa jawab semua. Terus dijadiin tugas.

Residen idola#2: Lha menurutmu dilulusin gak itu, kalo dikasih tugas?

saya: Wallahu ‘alam pak. Tinggal berdoa aja. Doakan saya ya pak.

Residen idola#2: *tersenyum* dilulusin dengan belas kasihan ya…

saya: *menangis dalam hati* haa, malu-maluin ya pak.

Residen idola#2: yang penting kan dilulusin.

saya: *semakin menangis* amiiiin. makasih pak.

Nguping VK Malam

Posted on June 11th, 2009 in activities, doctor's life by kyoudai  Tagged , , ,

Suatu malam yang sejuk di Kamar Bersalin kelas tiga di suatu rumah sakit pendidikan. Seorang residen sedang membantu mempersingkat persalinan pasien.

Koas #1 : Itu barusan namanya apa, Dai?

Koas #2 (yang dipanggil Dai) : Oh, itu induksi persalinan mekanik Lis. Namanya stripping of the membrane.

Koas #1(yang ternyata namanya Elis): Apa?

Koas #2 : Stripping of the membrane *dengan pengucapan yang benar, tentunya*. Memecah kulit ketuban.

Koas #1 : Oh.. Iya iya *mengangguk-angguk dan mulai menghafalkan*

Residen jayus #1 : Apa, Dik? Apa tadi kamu bilang?

Koas #2 : Eh,, anu Pak *takut kalau ternyata salah, dan bahwa dia sudah sok tau*

Residen jayus #1 : …Apa membrane?

Koas #2 : Oh, stripping of the membrane, Pak. *masih dengan fluent nya*

Residen jayus #1 : Kalau mau stripping jangan di sini Dik. Di club sana.

Koas #2 : *bingung sejenak* Hahaha. Strip-teasing kali Pak.

Residen jayus #2 : Loh, stripping tuh bukannya gini, *jari telunjuk mengacung di depan dahi, kepala geleng-geleng, mencoba memperagakan tarian ala diskotik*

Residen jayus #1 : *pandangan beralih dari kemaluan pasien ke temannya* itu kan tripping!!!

Didengar oleh beberapa orang koas yang ikut geleng-geleng kepala. Bisa juga para residen ini menjayus. Lumayan untuk melupakan sejenak kepenatan hari ini.

Next Page »