Mimpi itu terkoyak lagi, seperti daun kering yang terlindas ban mobil di jalanan, atau seperti serpihan sitoplasma dari megakariosit, yang membangunkanku ke dunia nyata dengan segala bentuk-bentuk barunya, tanpa menungguku, atau peduli padaku: siap, atau tidak siap.
Mimpi itu berhamburan lagi, seperti ukiran memoriku (di lobus prefrontal, tentu), yang segera kususun kembali; kerinduan akan sebuah negeri dongeng yang tak kan kujumpa lagi di bumi walau keindahannya masih meresap, nyata.
Mimpi itu semakin tertumpuk lagi, seperti harapanku sejak hidup di negri dongeng itu, hingga saat ini. Tumpukan itu mungkin tlah setinggi Gunung Ungaran, karena bahkan harapanku telah lama menyapa rasi biduk di atas sana, sebuah harapan untuk melangkah maju bersama raih masa depan.
Mimpi itu terus membayangi, seperti bayanganku sendiri, atau seperti amanah untuk menuju kesempurnaan yang kurindukan, dan selalu menantiku tanpa lelah, karena Allah-lah kesempurnaan itu.
Mimpi itu datang lagi, mengingatkanku.
Mimpi itu mimpi yang sempurna.
…dalam bab tidak jadi menulis puisi untuk sahabat…
