Archive for January, 2009

31
Jan

Maket Kehidupan Nyata

Adalah stase anak! Tentu saja, di dalamnya kamu akan menemukan segala hal yang bisa kamu temukan dalam hidupmu. Kamu juga akan menemukan keberagaman manusia di dalamnya, menemukan pelajaran-pelajaran hidup yang tidak bisa kamu dapat di sekolah-sekolah.
Entah kenapa, pulang dari rumah sakit hari ini, terlintas di pikiran betapa miripnya mereka: stase anak di rumah sakit tercinta itu, dengan kehidupan. Terlalu banyak kemiripan di antara mereka.
Salah satunya, kamu tidak akan pernah tahu seberapa baik kamu, karena kamu tidak bisa menilai diri sendiri.
Juga jangan pernah berprasangka buruk, atau itu akan terjadi padamu.
Kemudian juga, bahwa kamu hanya akan mendapatkan apa yang kamu harapkan.
Hm, ada ide lagi mengenai kemiripan mereka?

***
Premis umum…

Biasanya di bagian tertentu, kita mengenal premis umum yang mutlak,
yang wajib diketahui.
Contohnya:
Semua pasien dengan fraktur multipel harus dianggap cedera cervical (tulang leher –> bahaya), sampai terbukti tidak.

Nah, inilah ‘premis umum ala aku’ hasil perenunganku sejauh ini:

Semua anak adalah lucu, sampai terbukti tidak.
Semua orang adalah orang baik-baik, sampai terbukti tidak.

*Haha, gitu doang, kok pake merenung yak.

26
Jan

Dengue Shock Syndrome

[Play]

Pagi yang sejuk, setengah jam menjelang adzan subuh berkumandang, aku duduk di kursi dekat telepon *tentu sebagai co-ass jaga anak merangkap operator telepon*, bergegas melahap habis roti isi mesyes ala rumah sakit. Acara sahur kilat aku selesaikan dengan menyeruput frestea kotak dengan brutal *srot srot*, sebelum akhirnya cerita bodoh ini dimulai.

*****

“Dai, aku panggil bu C sekarang ya?!”

“Hm?”sambil terus mengunyah, “Karepmu wis.”

Dengan enggan aku beranjak dari kursi, setengah mengunyah dan melambai sedih pada frestea kotak yang belum kosong, menghampiri sepasang suami istri dengan seorang anak terbaring di brancard di sudut UGD ini.

Aku tersenyum dan bertanya, “Gimana, Bu? Anaknya kenapa?”

“Anu Mbak, dingin,”

Kuraba kedua tangannya. Memang dingin. Aku raba kakinya, oh dingin juga.

“Em, aku tem dulu ah” aku bergumam dan meraih termometer air raksa di rak dekat situ.

“36, Yan”, lima menit kemudian aku berkata padanya, sambil terus menganamnesis,

“Oh, jadi sudah panas hari keempat ya Bu,”

“Iya Mbak. Nglemeng, panasnya.”

“Yan, mau ngitung heart rate tapi kok nadinya enggak teraba ya?”

“Coba femoralis, atau brachialis. Oya, carotis aja ding, coba aja. Pasti ada,”

“Engh, susah Yan. Coba kamu,”

Aku beralih dari leher ke perutnya, “Sakit, Dik?”

Si adik 2 tahun 8 bulan yang ternyata manis sekali itu mengangguk dengan dahi berkerut.

“Wow, gede banget,” tak sadar aku berseru ketika menyadari hatinya sudah blank hart setengah-setengah (parameter untuk pembesaran organ hati, red.).

“Iya, susah Dai, nadinya,”

“Oh, pake stetoskop aja ya,” aku merasa dapat ide cemerlang dan segera meraih stetoskop.

“Sip, HR 145 kali,”

“RR 30 kali,” temanku membalas.

“Bu diselimutin aja ya, anaknya,” lagi-lagi aku merasa mempunyai inisiatif ala Maladica: memberi selimut untuk pasien dengan akral (tangan dan kaki, red.) dingin.

Bu C akhirnya datang juga, bertanya sekilas pada ibu pasien, segera menghilang, dan kembali dengan dua botol infus RL (Ringer Lactate, red.) dan meminta perawat untuk memasang infus.

“Ditensi ya Dik,” kata bu C.

“Pake monitor aja,”

Bu C pergi dan segera kembali lagi dengan botol infus lagi. Haes® tertulis di labelnya.

“86 per 63, Bu” temanku menyahut dari sudut brancard, memberi tahu tensi anak ini.

Hmm… Infus RL dua jalur? Haes? Nadi cuma delapan puluhan per enam puluhan? Oiya ya, ada akral dingin. *Oalah, syok toh.*

[Rewind]

-Kok nadinya ga keraba? Ada akral dingin pula?! Tanda syok dong? Oya, tensi-nya berapa ya?!

-Selimutnya mana ni?

-Duh Bu C kok belum dateng juga sih. Infus RL, bilang perawat, pasang dua jalur.

-Bu, beratnya anaknya berapa?

-Oya, tolong siapin Haes juga.

Aku berharap dapat menyerukan beberapa kalimat sekeren itu, sebelum bu C datang. Aku berharap dapat berinisiatif dan berpikir sejenak, memunculkan satu kata penting itu di otakku: SYOK, sebelum bu C datang.

Sangat cocok: akral dingin, nadi tak teraba, dan riwayat demam empat hari.

Aku berharap aku bisa memutar kembali waktu, dan melakukan hal yang seharusnya aku (seorang co-ass anak, bulan kedua) lakukan: mengenali tanda kegawatan; melakukan hal yang tepat dengan cepat; melakukan hal dengan benar; dan melakukan hal yang benar.

Bukan berarti aku salah. Hanya saja kenapa aku harus menunggu bu C datang dan menyambut rangkaian kata “akral dingin, nadi tak teraba, hati membesar” dengan sebuah penanganan yang mencegah bahaya lebih lanjut?!

*****

Demikianlah another kisah bodoh-ku saat jaga di stase anak.

Impian menjadi sekeren dokter di serial tivi ER, yang dengan cekatannya bernyanyi merdu untuk petugas UGD lainnya, “tolong infus, darah rutin, jangan lupa balans cairan” tertunda sejenak. Impian menciptakan suasana tegang (karena semuanya bergerak cepat dan akurat) namun terpercaya (karena co-assnya cukup kompeten) khas UGD belum dapat terwujud.

Ya, inisiatif bisa dilatih. Betul kan. Besok lagi kalo jaga, jangan lemot-lemot banget ya Yu. Mikir jernih dikit kek. Masa syok aja belum kenal juga. Kenalan lagi gih, sana!

26
Jan

Jalan Hidup

[Nemu lagi postingan jebot, di folder....]

Dokter adalah salah satu profesi seumur hidup. Mereka tidak bisa melarikan diri dari tugas moral menolong orang, bahkan menyelamatkan nyawa. Mereka ditempa untuk itu. Mereka telah bersumpah. Menjadi dokter adalah jalan hidup.

Nyalin dari diary-ku, ditulis suatu hari di HND (High Netting Nursing Dependency), pas stase anak.

25
Jan

Bagaimana mungkin kita mengeluh

[Ini sebenarnya dibuat awal Januari lalu, tapi karena internetnya error, jadi baru aku posting sekarang...]

Bagaimana mungkin kita mengeluh tentang keadaan kita, ketika melihat siaran berita di televisi, atau membaca koran pagi hari, atau membuka halaman pertama e-mail provider, tentang perang itu lagi.

Bagaimana mungkin hati kita tidak tercabik setelah melihat keadaan di Gaza saat ini, setelah apa yang terjadi dua minggu ini. Perang ini sudah lebih dari sekedar siapa lawan siapa karena mau apa. Ini adalah isu kemanusiaan yang serius.

Aku memandangnya sebagai: ada dua kelompok kecil yang berseteru (yaitu israel dan palestina), sementara ratusan kelompok lain (kelompok=negara) tidak bisa berbuat APAPUN.

Siapa sih, yang bisa diharapkan? UN alias PBB? Yakin???

Indonesia? Terbang ke sana, beramai-ramai? Hmph….

Sempat secara impulsif aku bergumam keras di rumah, “wah asik ya kalo jadi dokter di daerah konflik. Ke Gaza, gitu. Seru”

Dan ibuku langsung menyahut, “hus”

Atau kita bersatu padu, ‘bersama kita bisa’?. Seluruh dunia tanpa terkecuali, bergerak ke tengah (dan bukannya menuju salah satu sudut dan memihak) dan melakukan mediasi untuk kedua pihak itu, begitu???

Bodohnya aku, tak tahu-menahu mengenai sejarah panjang Israel dan Palestina. Jadi sebelum pertanyaan-pertanyaan bodohku di atas aku tanyakan ke orang lain atau sebelum aku bisa memberi pendapatku sebagai seorang manusia yang berhati nurani, dan terutama sebagai seorang muslim,

aku benar-benar harus membaca kisah tentangnya. Sedang dilakukan. Aku kabari segera.

Hm, jadi mari tarik napas panjang, istighfar, segera tilawah…. Baca doa sebanyak-banyaknya…. Torang samua basudara kan, para muslim. Sakit ni, sakiiiiit…..

22
Jan

JangDem

Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada keadaan suhu tubuh di atas 38 derajat celcius tanpa adanya infeksi intrakranium…

Gitu aja?! Ga cukup.

Hanya terjadi pada anak yang berusia di atas satu bulan.

Merupakan kejang pertama, belum pernah kejang sebelumnya tanpa demam.

Tidak ada infeksi intrakranial.

Hmm, apa lagi ya?!




Archive

On Goodreads

Widget_logo

On Facebook


Darmawati Ayu Indraswari's Facebook profile

Love these

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 31: 27).

...

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk." (QS 2: 45)

...

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259)

...

“Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)”

...

Be true to your heart, cause your heart can tell you no lies. (Stevie Wonder & 98 Degrees' True to Your Heart)