Archive for February, 2009

28
Feb

Tentang Mata

Akhirnya saya sudah menemukan tema penting untuk ditulis sebagai “prasasti” goresan pena keyboard laptop selama menjalani stase mata.

Tema yang cukup menarik ada tiga: tentang donor mata dan usaha gila untuk menghilangkan mata minus; tentang bedanya pasien VIP dan pasien kelas 3 saat masuk ruang operasi mata; tentang anak kecil yang ‘dipaksa’ untuk diambil bola matanya.

Minggu depan saya sudah ujian, jadi mungkin pembahasan tentang ketiga tema ini saya tunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan…

14
Feb

Co-ass’ Corner: Opini saya [Part 3-finale]

Tidak etis rasanya jika penulis menuliskan opini pribadi pada dua artikel sebelumnya, karena penulis sedang berperan sebagai seorang jurnalis yang melaporkan suatu berita atau kejadian, tanpa memasukkan opini di antara fakta-fakta yang telah dipaparkan.

Nah, pada artikel terakhir ini, penulis akan membuat evaluasi mengenai acara Co-ass corner tersebut, siapa tahu bisa menjadi feedback yang baik. Tentu, sudah ada kesempatan untuk menyampaikan ini di akhir acara kemarin, sayangnya kertas yang disediakan terlalu kecil untuk menampung semua ide penulis.

Hal pertama adalah bagaimana mewujudkan imaji penulis mengenai sebuah pertemuan yang bermutu yang membahas tentang persiapan masa depan. Karena secara pribadi penulis berencana menjadi dokter PTT selepas lulus nanti, maka usul penulis ada dua, yaitu tentang perlunya tema khusus untuk wanita, dan yang kedua adalah tema khusus untuk PTT. Lebih lengkapnya:

  1. Ketika audiens ditanya mengenai rencana lima tahun ke depan, penulis sangat ingin mengacungkan tangan dan menjawab, “tahun pertama menikah dan membuat STR, dan PTT di daerah dengan kategori sangat terpencil selama 6 bulan, tahun kedua mendaftar S2 ke luar negeri, kemudian kuliah selama 2 tahun, tahun keempat masuk pendidikan spesialis dan menjadi dosen” namun apa daya, kata “menikah” sungguh berat diucapkan, mengingat itu bukanlah rencana yang setara dengan “sekolah” yang bisa diwujudkan dengan belajar dan mendaftar (tentu dengan izin Yang Di Atas). Maka penting sepertinya untuk kami para perempuan memahami peran diri sendiri, apakah menikah nomer satu sehingga harus menunggu-entah sampai kapan-dilamar seseorang dan baru bisa meneruskan hidup, atau bagaimana? Atau bagaimana jika kadang keinginan pribadi tidak sesuai dengan keinginan suami kelak, sementara kita pribadi juga tidak yakin mengenai keinginan kita. Bagaimana menentukan pilihan yang bijak atau bagaimana membuat prioritas?
  2. Sudah banyak kisah sukses yang penulis dengar mengenai senior yang menjadi dokter PTT di daerah, sehingga akan sangat bermanfaat kalau bisa mengumpulkan para senior ini untuk menjadi pembicara dalam acara talkshow. Mendatangkan para pelakunya akan lebih mengundang semangat dan motivasi, sekaligus membangun jaringan dan menekankan pentingnya mengasah teknik lobbying dan networking. Bahkan penulis memiliki beberapa nama untuk para calon pembicaranya: dr. Suryo, dr. Agus (lagi!), dr. Tina, dr. Biuti, dr. Saldi, dll.

Oya, ada satu pertanyaan (sebenarnya lebih, tapi penulis lupa) yang muncul di benak penulis tepat saat dr. Agus mengakhiri sesinya adalah sebagai berikut:

Bagaimana membangun koneksi dan jaringan sehingga bisa mendapat begitu banyak kemudahan dan keberuntungan terutama mengenai info-info lowongan di beberapa tempat?

Demikian lah laporan singkat dan sangat subjektif dari seorang pewarta yang kebetulan juga berada di tempat kejadian untuk menikmati acara. ^^

14
Feb

Co-ass’ Corner: dr. Agus [Part 2]

Pembicara kedua adalah dr.Agus Fitrianto, lulusan FK Undip angkatan 1999 yang melanjutkan PTT di Pulau Kesui, Maluku, yang saat ini sedang menempuh tahun pertama di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Undip. Pembicara kedua ini menyapa audiens dengan pertanyaan menantang, “Mau jadi apa Anda dalam 5 tahun ke depan?” yang segera dijawab dengan tegas oleh seorang audiens, Kak Andy Kris dengan, “saya akan mendaftar PTT, kemudian melanjutkan spesialis.”

Tema yang dibebankan pada sesi kedua ini adalah mengenai pentingnya membuat peta hidup. Maka beliau menekankah pentingnya memiliki visi dalam hidup. Visi-lah yang menentukan koridor kita untuk sampai tujuan. Visi-lah yang menjaga kita tetap berada pada jalur yang sesuai, yang akan mengantar kita pada visi tersebut.

Dr. Agus memulainya dengan mengisahkan perjalanan beliau bahwa pada awalnya setelah lulus beliau bertujuan untuk mencari pengalaman dan mencari uang untuk melanjutkan sekolah spesialis Anak. Dr. Agus meyakini bahwa dengan keyakinan, semuanya bisa kita lakukan. Lulusan Undip harus percaya diri, yakin akan kemampuan diri sendiri. Beliau bercerita bahwa pertama kali datang ke Pulau Kesui, tidak ada satu pun kemampuan berikut yang beliau kuasai: apendiktomi, amputasi, sectio caesaria, dan satu lagi (penulis lupa, red.), dan pulang ke Jawa dari Kesui, keempatnya terkuasai. Beliau terpaksa melakukan hal-hal semacam itu untuk menolong pasien.

Selain sebagai orang yang membantu mengantarkan kesembuhan orang lain, dokter adalah fasilitator masyarakat. Beliau ditempatkan di daerah terpencil pascakonflik, di mana peran seorang mediator untuk mendamaikan sangat dibutuhkan. Daerah itu baru mendapatkan dokter saat beliau datang, sejak Indonesia merdeka. Dan di sinilah salah sartu peran dokter. Dokter juga pengajar, karena banyak petugas kesehatan yang tidak terlalu terlatih yang membutuhkan pelatihan. Dokterlah yang diharapkan dapat membagi ilmu dan keterampilannya kepada para petugas kesehatan lainnya. Revitalisasi di daerah itu pun perlu dilakukan, maka dokterlah yang menjadi motor penggerak revitalisasi di bidang kesehatan, seperti memperbaiki Puskesmas yang sudah sangat buruk kondisinya, menyuplai obat-obatan, dan sebagainya.

Senada dengan pembicara pertama, dr. Agus menekankan pentingnya Ilmu Kesehatan Masyarakat ketika menjadi dokter PTT, di mana ilmu semacam ini sangat aplikatif.

Keterbatasan waktulah yang menghentikan cerita beliau mengenai pengalaman pribadi menjadi dokter PTT di Kesui. Topik utama sesi kedua ini adalah membuat peta hidup untuk membantu pencapaian tujuan setelah lulus dokter nanti. Karena penulis yakin banyak audiens (dan para pembaca yang tidak berkesempatan hadir) ingin tahu lebih banyak mengenai cerita pengalaman beliau, penulis menyarankan para pembaca untuk mengunjungi sendiri situs ini, yang berisi pengalaman beliau selama menjadi dokter PTT.

Tetapkan visi adalah tugas pertama kita saat ini, detik ini. Dengan visi itu, kita breakdown menjadi peta hidup yang lebih detil, dan cobalah untuk memegang teguh peta itu. Itulah haluan kita. Penulis mengutip beberapa kalimat penting yang sangat bermakna dari dr. Agus, “Kita adalah nahkoda dalam hidup kita, maka tentukan tujuan mau dibawa ke mana kapal kita. Apabila kita tidak mempunyai tujuan yang jelas, maka setiap ada pulau yang indah dan tampak menjanjikan, maka kita akan mudah berlabuh, dan akhirnya akan kecewa. Maka tujuan adalah sangat penting.”

Hal kedua yang tak kalah penting dari visi adalah konsistensi, yaitu keteguhan setelah menetapkan target. Tidak mudah tergiur oleh tawaran ini dan itu, jika kita memang sudah memiliki tujuan tertentu. Maka yakinlah. Keinginan kuat dan prasangka yang baik adalah dua modal utama untuk mencapai keberhasilan.

Tanpa bermaksud tendensius, penulis merasa perlu menyampaikan bahwa Dr. Agus juga menyebutkan dua ayat Al-Quran, yaitu bahwa Allah adalah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka selalulah berprasangka baik. Yang kedua adalah mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59:18).

Mimpi adalah setengah rencana, sedangkan rencana merupakan setengah dari kerja keras, dan kerja keras adalah setengah dari keberhasilan. Demikianlah rumus sederhana yang beliau yakini, yang penulis yakini pula dapat berlaku bagi semuanya. Keberuntungan berbeda dari keberhasilan, di mana keberuntungan seringkali tidak memerlukan proses, sementara keberhasilan sudah pasti merupakan akhir dari proses yang panjang yang kita usahakan.

Acara sore itu segera diakhiri karena saat itu waktu sudah menunjukkan lima menit menuju adzan maghrib. Pertanyaan-pertanyaan pada sesi kedua terpaksa disimpan untuk kesempatan berikutnya, apabila memungkinkan. Penulis menyayangkan keterbatasan waktu tersebut, dan ingin rasanya mengacungkan tinju ke udara dan berteriak, “Saya ingin bertanya!” namun apa daya.

Secara keseluruhan, acara sore itu cukup menggugah semangat untuk menetapkan tujuan dengan jelas, mau apa kita nanti. Terrmasuk menetapkan apakah tujuan dari PTT kita nanti, apakah mencari uang atau mengabdi pada masyarakat atau keduanya. Setelah tujuan jelas, maka konsistensi dan keyakinan yang kuat harus mengiringi tujuan tersebut.

14
Feb

Co-ass’ Corner: dr. Djalal [Part 1]

Co-ass’ Corner: “What Next after Graduation”; Sebuah Laporan Subjektif dari Reporter yang Merangkap sebagai Peserta Acara ^^

Acara semacam pertemuan rutin para koass FK Undip yang diselenggarakan oleh RMA (Remaja Masjid Asy-Syifa) dibuka dengan sambutan hangat MC Kak Taufik yang memperkenalkan acara ini, bahwa sore itu kita akan mendapatkan informasi mengenai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap), sebuah posisi yang dulu pernah diwajibkan bagi semua “fresh graduate” dokter, untuk bisa mendapatkan surat izin praktek. Juga mengenai apa yang akan kita lakukan setelah lulus dokter nanti, bagaimana menetapkan tujuan yang jelas, dan semisalnya.

Pembicara pertama adalah dr. Djalaludin, seorang dokter lulusan FK Undip tahun 1993 yang juga lulusan S2 Epidemiologi dari UGM yang saat ini sedang menjadi residen Ilmu Penyakit Dalam di Undip. Sesi pertama diawali dengan tampilan slide mengenai kilasan gambaran kehidupan dokter PTT di berbagai daerah di Indonesia. MC membacakan keseluruhan ilustrasi yang ditampilkan, seperti kisah dokter X di Maluku yang kondisi lingkungan tempat tinggalnya sangat terbatas, dan begini dan begitu. Juga dokter Y yang ditugaskan di Kalimantan, yang hanya bisa ke tempat kerjanya dengan taksi air, sejauh 20 km yang ditempuh dalam waktu 10 jam, dan sebagainya. Slide diakhiri dengan pertanyaan untuk audiens, “Jadi, masih mau PTT????!!”

Acara sore yang lebih suka penulis sebut dengan talkshow ini lebih bersifat santai, informal, dan sharing. Dr. Djalal bercerita mengenai kehidupan 3 tahunnya di Wonosobo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang masuk kategori “biasa” (1 dari 3 kategori yang tersedia, sisanya: “terpencil”, dan ”sangat terpencil”), yang ternyata sama sulitnya. Sulit air, sulit listrik, sulit sinyal hp. Di sela-sela ceritanya, beliau bercerita bagaimana trik menjalani PTT. “PTT itu memang tidak enak Dik, saya akui. Tapi mari pragmatis saja, dijalani aja.”

Penulis menangkap beberapa inti dari topik yang diusung dr. Djalal, antara lain bahwa Ilmu Kesehatan Masyarakat merupakan ilmu yang sangat berguna saat menjadi dokter PTT, di mana dokter dituntut untuk menguasai manajemen dan teknik berorganisasi. Tak jarang dokter PTT ditugaskan menjadi kepala Puskesmas. Hal berikutnya yang penting yang beliau sampaikan adalah, ketika salah satu tujuan PTT kita adalah menggalang dana untuk sekolah spesialis, maka sebaiknya tidak usah terlalu sering pulang sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.

Hal yang disayangkan dari PTT adalah ilmu kita sulit berkembang. Kita merasa semakin bodoh. Tidak ada internet, tidak pernah ikut seminar, tidak pernah tahu update ilmu di bidang kedokteran. Dan apabila cita-cita kita menjadi spesialis maka usahakan bisa menjadi PNS, kemudian kerjasama dengan Departemen Kesehatan untuk mendapatkan beasiswa sekolah spesialis. Tentu beasiswa ini mengikat, yaitu kita harus mengabdi di daerah tertentu selama 2n+1; n=masa studi spesialis.

Selama menjadi dokter PTT pun kita diharapkan berani, namun bukan nekat. Berani artinya yakin akan kemampuan diri sendiri untuk menangani pasien, nekat artinya bersikap heroik yang bukan pada tempatnya. Berani karena hanya ada dua pilihan: apabila tidak kita tangani, pasien pasti mati. Apabila kita tangani, pasien mungkin mati, tapi mungkin juga selamat. Nekat berarti seperti akan menembus badai untuk menolong seorang pasien padahal kita tidak yakin akan keselamatan diri kita sendiri.

Memilih penempatan di luar Jawa lebih besar kemungkinannya untuk diangkat menjadi PNS. Kebijakan desentralisasi saat ini memberikan kebebasan kepada Pemda untuk mengangkat PNS di daerah masing-masing, maka di luar Jawa yang perbandingan dokter pasiennya sudah pasti kurang dari 1:1000, kemungkinan diangkat menjadi PNS lebih besar. Penulis yakin bahwa dr. Djalal sedang mengingatkan kita pada premis umum bahwa menjadi PNS artinya socially, economically stable. Tentu saja dengan menjadi PNS pula, kemungkinan mendapatkan beasiswa dari Depkes untuk sekolah spesialis lebih besar.

Dr. Djalal juga menekankan pentingnya mengenali diri kita, di manakah posisi kita: golongan orang kaya (sehingga sebaiknya setelah lulus maka langsung PTT sebentar saja, 6 bulan, dan lanjut sekolah spesialis), atau golongan pas-pasan (sehingga harus mencari dana untuk sekolah spesialis dengan PTT; atau menjadi dosen sehingga bisa diangkat menjadi PNS). Tentu kita juga harus tahu tujuan PTT yang akan dilakukan. Menurut beliau, sebaiknya untuk mengabdi kepada masyarakat, dan menggalang dana untuk sekolah lagi.

Pasca-PTT, apabila telah diangkat menjadi PNS, maka kecil kemungkinan untuk ditempatkan di daerah terpencil lagi, seperti saat PTT.  Maka istilahnya, otomatis kita geser ke kota.

Bisa disimpulkan bahwa setelah lulus dokter terdapat 3 pilihan: mau jadi dosen kemudian sekolah S2 yang kemungkinan besar disekolahkan oleh universitas yang menerima kita sebagai dosen (karena syarat dosen adalah S2), kemudian dengan S2 kemungkinan untuk bisa sekolah spesialis lebih besar, atau yang kedua yaitu langsung sekolah spesialis (dengan syarat tersedianya dana), dan ketiga menjadi dokter PTT sehingga bisa menjadi PNS yang bisa melanjutkan spesialis sesuai jalur yang telah dijelaskan di atas.

Dalam sesi tanya jawab, pertanyaan mengenai besar dana yang bisa dikumpulkan selama PTT menjadi topik utama. Jawaban sang pembicara patut dicatat, bahwa mencari tempat yang basah memang susah, sehingga menjaga hubungan baik dengan kepala daerah dan kantor dinas setempat sangat penting. Teknik negotiating dan lobbying benar-benar dibutuhkan, terutama untuk mengetahui info mengenai penerimaan PNS.

12
Feb

Don’t Blame God

It’s when we meet particular types of patients in the ward or day clinic in the hospital, or even in the ER. A child was brought into the room with ill-appearance or severe condition. Then the doctor and us (co-ass) perform the usual procedure- standard operational procedure of anamnesis, physical examination, and differential diagnosis.
Usually it ends up with bad thing to tell to the parents. “Sorry, you came here too late, Mam”, or “We’re afraid that your child couldn’t recover fully like before” or things like that. And sure it will be followed by this sentence, “We are doing our best now.” and so forth. Then they might start blaming God for giving them such thing. It’s often difficult for them to pay for the fee in the hospital for their child.

Well the moral is that people tend to ignore health issue. People don’t really give attention to their own body, to their own family’s health condition. They think that some symptoms showing up one day don’t mean anything. The symptoms might be something mild and will resolve someday. Then time goes by, but the symptoms persist, even get worse. Then they come and see the doctor and regret that it’s way too late. Those abandoned periods are the golden period of the symptoms (which mean diseases) to grow, expand, and become severe. Ignoring the symptoms means inviting bigger problems, because when a disease is already severe, it takes time, money, and effort to be recovered.
Then it’s not uncommon that these people blame the doctor for not being able to give therapies or to alleviate the symptoms. Some even try alternatives which often makes the disease worse. Well, not all, but some.

That is a very good example of Paradigma Sakit (Paradigm of Being Sick), while Indonesia now is promoting Paradigma Sehat (Paradigm of Being Healthy), to do promotion or prevention, instead of curative approach towards diseases.

If we can prevent, why should we even wait until the disease shows up then start to cure?

I strongly believe that health issue is one of the important things to be concerned by the government. But then health is beyond health itself. It involves the people in it, the sources, the system, etc. It needs healthy mind set and healthy executors to materialize a healthy community. Well, we need to manage the human resource, education, economy, etc to reach Indonesia Sehat 2010. Oh no, it’s next year!

I imagine that health issue has always been something to discuss or even be debated. I believe it’s part of government’s yearly plan to be in the campaign. It can be asked during the campaign on race of the presidential election. So, in the next presidential election, the answer to the question: “Choose one out of the followings: health, economy, infrastructure development, the thing that is the most important to be fixed to make a better Indonesia?” is NOT health. It is economy (or education, or human resource development, or depends on the options available). By having good economy condition, it will fix the mind set. It will set up a good paradigm of health, so that people will have more concern on their health, on their own body, to prevent disease, and to stay healthy.
Thus healthy people will make healthy Indonesia, which leads to better Indonesia.




Archive

On Goodreads

Widget_logo

On Facebook


Darmawati Ayu Indraswari's Facebook profile

Love these

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 31: 27).

...

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk." (QS 2: 45)

...

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259)

...

“Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)”

...

Be true to your heart, cause your heart can tell you no lies. (Stevie Wonder & 98 Degrees' True to Your Heart)