Archive for July, 2009

26
Jul

Membedakan Waspada dan Buruk Sangka

Aku punya gangguan dalam membedakan dua hal itu; waspada dan buruk sangka.

***

Aku sering mencampuradukkannya. Kupikir itu waspada, ternyata buruk sangka. Kupikir aku harus berbaik sangka, ternyata aku malah jadinya kurang waspada.

Contoh kejadian:

Ketika aku merasa gagal ujian aku mempersiapkan hati bahwa aku tidak lulus. Maka aku merasa hancur, merasa tak berguna atas apa yang telah aku lewati, bahwa aku tidak berusaha sungguh-sungguh. Aku menyetel diriku supaya menyesal. Aku menyetel diriku supaya tidak berbahagia lagi sampai aku lulus.

Ternyata…. Saat pengumuman, aku lulus. Langsung, aku merasa bersalah karena telah berburuk sangka. Yang kukira waspada akan kemungkinan terburuk yang terjadi yaitu tidak lulus ujian, malah ternyata sebuah buruk sangka. Aku cuma MERASA gagal, tapi tidak melakukan apapun. Hanya mengutuki diri. Buruk sangka… Terhadap siapa? Siapa lagi, Dia Yang Maha Adil.

Suatu saat aku berjalan di keramaian. Dan yang kuingat di pikiranku saat itu adalah aksonema penting itu, SEMUA ORANG ADALAH BAIK SAMPAI TERBUKTI TIDAK. Jadilah aku senyam-senyum. Eh tiba-tiba ada orang jahat mengambil tas yang terjatuh. Tasku! Langsung kalimat itu terngiang lagi, AH, PALING DIA NYIMPENIN, BIAR GAK DIAMBIL ORANG. Ternyata oh ternyata, orang itu kabur naik motor, ngebut, menjauh dariku yang melongo. Demikianlah kalau merasa diri harus selalu berbaik sangka alias khusnudzon, tapi malah tidak waspada. Tidak ada yang menyuruh untuk berburuk sangka bahwa akan ada orang jahat yang mendekati kita. Tapi penting untuk waspada, bahwa kejahatan sering muncul hanya bila ada kesempatan. Seperti tas jatuh.

Masih banyak contoh yang lain, baik yang pernah aku alami maupun yang aku lihat pada orang lain. Lain kali ya, lupa nih!

***

Nah, nah… Jadi, kutegaskan, bila kamu berbuat dalam rangka mempersiapkan hal terburuk, itu bagus, karena itu artinya kamu waspada. Jika kamu merasa akan terjadi hal terburuk, itu artinya buruk sangka. buruk sangka sama siapa?? Sama Tuhanmu!!!

Singkatnya, aku menyimpulkan bahwa waspada adalah tindakan, sedangkan buruk sangka adalah pikiran atau perasaan.

Jadi, ketika kita MEMIKIRKAN sesuatu yang buruk, itu artinya buruk sangka.

Namun ketika kita MEMPERSIAPKAN DIRI menghadapi sesuatu yang buruk, seperti MEMBAWA payung saat bepergian, MEMBAWA tas di depan badan bukan di belakang saat berjalan di keramaian, BERTANYA pada teman bagaimana caranya mengulang ujian walaupun pengumuman lulus ujian belum ada, adalah suatu kewaspadaan.

26
Jul

Memperbaiki Niat

Suatu sore setelah pengarahan pre-stase baru, aku ngobrol dengan teman sekelompok koas tercinta,

Aku: Hadoh, uda mau stase baru aja. Harus memperbaiki niat nih.

Teman: Iya, ayo semangat.

Aku: Aku pengen tobat. Pengen serius belajar. Aku gak mau glundungan lagi ah; cuma lewat stase aja, buat syarat lulus dokter.

Teman: …….

Aku: iya kan? iya kan?

Teman: …….

***

Hm, dari tanggapannya, aku menyimpulkan bahwa kalimat keluhanku benar-benar sesuatu yang baru untuknya. Benar-benar tidak pernah terpikir olenya bahwa menjalani stase saat koas adalah hanya ‘lewat saja’, ‘yang penting lulus.’ Astaghfirullah, aku jadi malu sendiri.

25
Jul

Pengumuman resmi, dan renungan ^_^

Akhirnya saya beranikan diri menulis ini.

Adikku punya pacar. Aku tidak punya pacar. Ortu panik, anak gadis pertamanya (aku) bakal nikah ndak ya? Kalo iya, kapan, kok belum punya pacar?

Bukan, bukan mengeluh. Hanya ingin dunia tahu bahwa aku percaya Tuhan dan percaya akan kehendak-Nya bahwa semua Dia Yang Mengatur. Hehe, jadi aku tidak perlu lagi berkomentar terhadap ucapan seperti di atas.

***

Lalu, aku menyimpulkan bahwa orang yang banyak berkomentar cenderung kalah. Semakin banyak berbicara, semakin kecil kemungkinan untuk bertindak. Dia akan sibuk dengan omongannya sendiri. Sementara jika semakin jarang bertindak, maka semakin mungkin untuk kalah.

So, stop giving comment, just act! NOW!

*mungkin antara pengumuman dan renungan di atas berhubungan ya; aku tidak ingin banyak berkomentar tentang status jombloku, karena aku sedang berusaha memperbaiki diri. Amin*

21
Jul

Forensic doctor equals detective?!

Well, lately my lazy-based style of writing is just excerpting voices going on around me. Yeah, only conversations, sayings, and shouting, sometimes.

Okay, so here’s why we parallelize forensic doctor and detective. I heard these:

1. During an autopsy on a little girl died of smothering.

dr. SK, Sp.F: “Coba dilihat deh tu mukanya. Lebih gelap daripada badannya kan. Hm, *berpikir* pasti waktu meninggal posisi kepalanya lebih rendah dari badannya. Hm, *berpikir lagi* apa ditenggelamkan ya?!”

Beberapa menit kemudian polisi sang penyidik datang dan berkata, “oh ya Dok, sayalupa bilang. Seorang saksi bilang kalau mayatnya ditemukan di bak mandi dengan kepala di bawah”

2. During another autopsy on an unknown dead body, strongly suspected as a beggar.

dr. IW, future Sp.F: “Luka-lukanya kok kayak gini ya. Hm *mengerutkan dahi* kalo luka lecet geser pasti ada arahnya. Ini kok kayak gini… *berpikir lagi* Kayak digigitin hewan gitu. Gak mungkin terjadi pas masih hidup nih. Tapi warnanya merah.”

Kemudian sesuai dugaan, dipastikan luka tersebut memang luka perimortal, bukan terjadi sebelum meninggal atau sesudahnya. Tapi saat orang tersebut sudah meninggal dengan jaringan tubuh yang masih hidup.

Now I am wondering why we the-detective-story-lovers (you tell me: CSI, monk, detective conan, kindaichi, bones, numbers, sherlock holmes, etc) won’t even consider to major in forensic medicine for a specialty??!!

Sounds cool, having a working time as a riddle-solving time!

05
Jul

Oh life..

I chatted with my old crush, I met my old friends, I miss my friends in medschool. Well life is so dinamic I sometimes can’t catch it up. But, love it!




Archive

On Goodreads

Widget_logo

On Facebook


Darmawati Ayu Indraswari's Facebook profile

Love these

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 31: 27).

...

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk." (QS 2: 45)

...

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259)

...

“Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)”

...

Be true to your heart, cause your heart can tell you no lies. (Stevie Wonder & 98 Degrees' True to Your Heart)