Archive for August, 2009

27
Aug

Baju Hijau

Baju hijau.. Setelan berupa topi, masker, atasan, celana panjang, dan sepatu. Semuanya hijau. Yah, kecuali sepatunya, eh bungkus kaki, yang warnanya biru tua. Baju hijau yang wajib dikenakan kalau mau masuk ke instalasi itu. Instalasi dengan suhu maksimal 17 derajat celcius. Ya, instalasi bedah sentral. Atau kamar operasi lainnya.

Baju hijau.. Ukuranmu bervariasi, mulai dari S sampai XL. Ada yang baru ada yang sudah tua dimakan zaman (dan sabun cuci!). Tapi baju hijau yang baik adalah yang disteril, bukan baju yang keluar dari tas para koas..

Baju hijau, di balikmu, semua orang jadi mirip. Hanya terlihat matanya.. Dan lengan. Tangan, kalau kami berjilbab. Mudah dibedakan bila pemakainya gendut, atau sangat tinggi, atau pakai kacamata. Selain itu? Kita semua tampak sama di balikmu.

Baju hijau.. Dokter atau profesor, perawat atau staf, koas atau mahasiswa keperawatan (sengaja), semua sama. Hijau. Tidak ada beda. Berbeda jika kami mulai bergerak. Dokter punya tugas sendiri, perawat pun demikian.

Baju hijau.. Sungguh adil. Sebuah analogi untuk persepsi yang menurutku patut ditiru. Bahwa semua orang sama, kecuali perilakunya. Bukan penampakannya, ganteng atau jelek, cantik atau item jerawatan, gendut atau ceking, tinggi atau pendek…

Baju hijau.. FYI, yang belum ngerti kenapa warnanya hijau, warna hijau dipilih karena menimbulkan rasa senang, bahagia, sehingga mengurangi stres operasi pada pasien. Syukur2 pada dokternya juga.

Baju hijau.. Kau setelan idolaku!

Dai, stase anestesi dan bedah bakal jadi asik nih. Amin.

16
Aug

Maaf ya, saya sedang hobi jaga…

Suatu siang aku membalas sms seorang sahabat, “susah ya punya teman baik hati yang pelayan masyarakat,” ketika dia butuh teman curhat.

Suatu hari pula aku pernah menitip pesan begini, “aku gak bisa ke kantor hari ini untuk ketemu mereka, salam aja ya,” ketika seorang teman mengingatkanku bahwa teman-teman dari Jepang selesai workcamp dan akan segera terbang kembali ke Jepang.

Sore kemarin aku juga segera merespon sms masuk, “wah selasa ya,, aku gak bisa, jaga. salam aja buat ponakanmu, cubitkan pipinya untukku,” ketika sahabatku itu mengajakku ikut acara aqiqah keponakannya.

Pernah pula aku mengatakan, “aku belum sempet ke kosmu untuk sungkem ayahmu, maaf ya. Jaga terus nih,” ketika ayah sahabat datang jauh-jauh dari Ternate ke Semarang.

Pada tetangga, aku bilang, “maaf ya saya tidak ikut membantu mempersiapkan tujuhbelasan sama sekali, saya jaga terus di rumah sakit,” aku tidak bisa ikut lomba-lomba atau bahkan malam tirakatan.

Kepada adikku tercinta pun aku bilang, “yah, nanti gak ketemu dong. jam 7 malam aku udah berangkat jaga lagi.. ” ketika jadwal waktu senggang kami hampir tidak pernah cocok, sekedar untuk bercanda saling mengejek “Genduuut!!”

Demikianlah kehidupanku sebagai koas neurologi yang hanya berdelapan, suatu massa di bulan Juli-Agustus di mana angkatan atas sudah selesai dengan massa koasnya, angkatan bawah masih berjuang dengan skripsi. Oh sepinya rumah sakit tanpa mereka!!… Oh sedihnya aku terlepas dari duniaku, kehidupan sehari-hariku…

*Ayu, mewakili teman-teman autisnya di tempat yang sama bernama kawah candradimuka rumah sakit pendidikan.

14
Aug

A Fine Line between This and That*

Stase neurologi, bukannya belajar pemeriksaan fisik, stroke, epilepsi, cedera medula spinalis.. Saya malah belajar alias mengamati bagaimana menentukan inilah saatnya mengutamakan kualitas hidup daripada kuantitas hidup; betapa waktu yang sedikit tapi bermakna lebih penting daripada hidup lama yang menyengsarakan. Bagaimana memastikan bahwa kita hanya bisa berdoa karena usaha sudah mencapai tingkat maksimal. Betapa saya melihat proses deteriorasi yang cepat, dari sehat menjadi sebuah hendaya besar.

Bahkan saya banyak belajar dari pasien. Saya tau, kalimat ini merupakan kalimat favorit koass dan semua calon dokter, “Pasien-pasien adalah guruku,” benar sekali! Bahkan juga belajar dari keluarga pasien. Mulai dari keluarga yang kooperatif, sampai yang sangat skeptis terhadap dokter (dan terpaksa ke RS karena mentok).

Ketika kita bilang ini sudah tidak bisa diperjuangkan, Allah berkehendak lain. Suatu hari ada seorang pasien dengan stroke perdarahan dibawa ke RS dengan penurunan kesadaran. Beberapa hari di RS, nafasnya semakin berat. Maka setelah diputuskan, pasien ini butuh dipasang airway definitif alias endotracheal tube. Waduh… artinya butuh ventilator, yang sangat jarang tersedia di ICU karena RS tempat saya belajar adalah RS favorit, sangat banyak pasiennya!! Walhasil ventilator itu tetaplah harus ada apapun yang terjadi. Maka ventilator digantikan oleh kami sang koas jaga. Yup, kami menjadi manual ventilator (versi saya), melakukan bagging (versi khalayak umum).

Selama 24 jam jaga itu, saya 3 kali bagging: sore, tengah malam, dan subuh. Bisa dibayangkan ngantuknya. Yah mungkin tidak terlalu mengantuk, tapi melakukan hal yang ritmis selama tiga kali dua jam sama dengan menginduksi kebosanan tingkat tinggi. Bicara soal filosofi, bagging adalah suatu tindakan penyelamatan nyawa. Bicara soal prakteknya, huah sungguh membosankan.

Jadilah saya tertunduk-tunduk di depan pasien yang napasnya sudah satu-satu. Tertunduk dan terpejam. Ngantuk!! Sementara keluarga pasien yang duduk mengelilinginya; suami, anak, dan anak, sibuk membaca QS. Yasin dan ayat-ayat lainnya dengan lantang namun sejuk. Mendamaikan hati. Mengharukan qalbu. Sayangnya kurang mampu membangkitkan pusat kesadaran di otak saya.

Beberapa waktu berlalu, tunduknya kepala saya semakin parah. Saya langsung berdiri, sambil tetap memompa. Bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, berharap mobilitas saya membangkitkan korteks otak saya. Beberapa menit, kemudian tertidur lagi. Iya, sambil berdiri. Teringat masa SMA, upacara bendera minimal 2 jam membuat saya menjadi seorang praktisi tidur berdiri. Hehe.. Akhirnya sang ayah alias suami pasien tidak tahan, “Sini mbak saya gantiin, mbak istirahat saja,”

“Ah enggak pak. Hadoh maaf ya pak saya malah ketiduran..” saya membantah, berusaha melek, dan terus memompa.

Bacaan ayat-ayat suci Al Quran terus berkumandang dari orang-orang yang tidak sedikit pun mengantuk itu; ayah, anak, dan anak. Saya? Di sebelahnya, tertunduk tidur beberapa detik sekali. “Sini mbak, saya saja. Sudah jam 1.30 lho, tadi katanya digantikan temannya jam 1? Mana, atau saya telponkan?”

Saya menolak lagi, “Sebentar lagi juga datang kok pak,” dan tertidur lagi. Di depan mata mereka.

Seakan tanpa lelah, seakan saat itu adalah pagi hari di mana matahari bersinar hangat dan bukannya tengah malam yang banyak nyamuk dan senyap, mereka terus berdzikir, membaca, menghayati…

“Orang tua kehabisan nafas bisa-bisanya kamu tidur. Itu orang lain yang bukan siapa-siapa aja melek!” sang ayah membangunkan anaknya yang tidak sengaja tertidur di sebelah saya, sambil menunjuk saya, orang-lain-yang-bukan-siapa-siapanya. Jleb, serasa merambat naik ke batang otak saya, suara ayahnya itu menohok, membangunkan saya. Aduh malunya saya yang lebih sering tertidur dibandingkan anaknya.

Hingga matahari terbit lagi esoknya, si pasien masih bertahan dengan napas satu-satunya. Siangnya pasien dipindah ke ICU dengan ventilator mekanik; Allahu Akbar. Baik untuk pasien karena bagaimanapun ventilator manual seperti tangan-tangan lemah kami tidak akan memberikan tekanan yang stabil pada paru pasien. Baik pula bagi kami yang artinya kami tidak perlu terkantuk-kantuk memompa. Sungguh egois, tapi memang itulah kalimat syukur kami.

Hari ini ingin sekali saya mampir ke ICU hanya untuk berucap terimakasih kepada keluarga pasien, betapa sabar dan tabahnya mereka. Memang Allah yang menentukan usia. Terus berdzikir dan berdoa mengiringi ibunda dan istri yang berjuang dengan napasnya yang terengah, dengan perdarahan masif di otaknya, bukan sebuah usaha menentang takdir. Apapun hasilnya, mereka selalu mengingat Allah, mendoakan si sakit. Bukan agar sembuh, melainkan agar Allah mendengar doa dan tangis mereka, sehingga memberi ketabahan di hati mereka; masihkah diizinkan bertemu dengan sang ibunda/ istri atau memang yang terbaik adalah berpulang. Sampai hari itu saat sang pasien dipindah ke ICU, Allah menunjukkan kuasa-Nya, bahwa memang belum saatnya untuk pulang, mungkin harapan untuk bertemu dengan keluarga masih ada.

Doa dan tangis mereka pun menembus hati saya, sang koas yang kebetulan jaga malam itu, yang terkantuk-kantuk dengan pompa napas di tangan. Semoga Allah memberikan ampunan padamu, ibu. Semoga Allah melimpahi kesabaran yang tiada putus untukmu, wahai ayah dan anak dan anak.

*masih bingung judul postingnya enaknya apa. Judul ini ngambil dari lirik Linkin Park, With You.

07
Aug

The Choice

I am not sure what to write, but all i know is that i have to keep writing, or else i will become more insensitive, dumb, dull… And for sure, a good writing won’t be part of my work lately, with all the analysis, research, or scientific references. A big no. It’s simply what’s in my mind.

Yups, masih tentang nikah. Tentang masa depan. Hm, kalau jodoh sih sudah bukan tema lagi. Teringat kata-kata bijak seorang sahabat, “Janganlah mempertanyakan hal-hal yang sudah pasti ada (sudah diatur), seperti jodoh.”

Jadi, tema kali ini adalah “ibu rumah tangga atau wanita karier??!”

Berawal dari keinginan alamiah ingin punya anak-anak yang berguna bagi agama, bangsa, dan dunia; ditambah dengan keinginan menggebu-gebu untuk PTT, ambil spesialis, sekolah PhD ke luar negri, belajar ini itu, nulis ini itu; aku harus mengambil cermin dan melihat diriku.

Mampukah aku mempertemukan keduanya, keinginan alamiah dan keinginan menggebu itu? Punya anak yang soleh-solehah, berbakti dan pintar, sekaligus menjadi seorang spesialis kardiologi yang pi-ej-di dan serentetan pengalaman yang selalu menjadi impianku? Aku mempertanyakannya pada cermin itu: mampukah aku.

Aku, yang masih merasa sebagai seorang single-tasker. Tidak bisa melakukan banyak hal dengan baik dalam satu waktu. Bisa sih, tapi tidak maksimal, ditambah gerutuan, ditambah emosi yang mengganggu sekitar…. Aku, yang merasa sangat terganggu saat sedang menyelesaikan suatu hal, diganggu oleh hal lain. Aku akan otomatis teriak, “MENGKO SIK, TO!!” Lebih sering di dalam hati sih, tapi ekspresi wajahku tidak mungkin berbohong. Orang akan tahu, kemudian “THOK!!”, stampel itu mampir di jidatku, “Oh, sang single-tasker. Ngerjain dua hal sekaligus/ nyambi aja susah.”

Ditambah lagi aku yang sekolah kedokteran; terpapar pada banyak fakta mengenai fungsi otak yang berbau gender, ditambah lagi terpaksa nge-fans dengan banyak orang keren yang tampak sangat mulia (aku pengen kayak mereka!) dengan segala konsekuensi perjuangan menuju kemuliaan itu.

Ya, tentang otak. Kata literatur, perempuan lebih mampu menjadi multi-tasker dibanding lelaki, dengan bagian otak yang namanya corpus callosum yang lebih tebal pada wanita. ‘Jembatan’ itu memungkinkan terhubungnya kedua belah otak, jadi bisa ‘bolak-balik’, bisa diganggu sana-sini… Contoh sederhana adalah bisa ber-sms ria sambil mendengarkan curhat sahabatnya. Lha aku???!!! Tidak bisa! Berarti otakku otak lelaki, begitu? Sehingga aku tidak akan berhasil melakukan dua hal itu: mengasuh anak sekaligus berkarier? Atau, karena aku perempuan, pastilah bisa karena pastilah aku dikaruniai otak perempuan?

Kemudian tentang kemuliaan itu. Menjadi seorang ahli butuh perjuangan, dan itu artinya waktu, tenaga, dan fokus. Nah, fokus itulah yang dibutuhkan. Mana bisa fokus jika bayi menangis di rumah? Mana bisa fokus, balita di rumah melahap TV dengan rakus, mengukir dalam otaknya kultur yang semakin aneh dari TV?

Dari berdiri menatap cermin itu, aku melangkah keluar rumah, melakukan penelitian yang sama sekali tidak ilmiah, yang berjudul: “kesuksesan anak daribu yang seorang ibu rumah tangga; bukan wanita karier”. Hasilnya: sebagian besar anak-anak itu (semuanya teman-temanku) sukses . Hampir semuanya cerdas, berbudi luhur, berempati tinggi, dewasa, terampil, dan semua kualitas yang bisa ada pada manusia unggul. Sementara pada anak dengan ibu seorang wanita karier, hasilnya bervariasi: ada yang sukses, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang hancur.

Jumlah anak yang sukses dengan ibu seorang wanita karier memang cukup banyak walaupun tidak sebanyak jumlah anak yang sukses dengan ibu yang ibu rumah tangga. Kesuksesan anak dengan ibu wanita karier tentulah karena alasan sederhana ini: ibunya hebat! Wanita karier yang multi-tasker. Ibu rumah tangga yang produktif di luar; giat bekerja tapi tidak melupakan anaknya.

Ya, begitulah maksudku. Bisakah aku jadi wanita karier yang hebat itu, yang mampu ‘mencetak’ anak-anak yang sukses?

Mengenai kewajiban ibu mendidik anak bukanlah suatu mosi yang harus diperdebatkan. Boleh dengan filosofi, agama, maupun hati nurani, aku yakin semuanya satu suara: ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Apa yang dilakukan ibu, itulah yang akan terbentuk pada anak-anaknya. Apa yang diberikan oleh ibu, itu yang ditelan anak-anaknya, secara bulat-bulat.

Mengenai wanita karier pun bukanlah sebuah mosi debat di sini. Wanita karier bukanlah semata dalam rangka membantu perekonomian keluarga. Wanita karier lebih kepada aktualisasi diri, harga diri, dan memaksimalkan karunia Tuhan.

Aku yang sangat tidak pede bisa menjalani dua dunia sebagai “ibu yang pengasuh dan pendidik anak dengan penuh cinta” sekaligus sebagai “akademisi yang calon dokter ahli” berusaha mencari solusi. Mencari jalan tengah.

Ah, ah.. Aku tahu. Aku, dengan rencana awal: lulus dokter di usia 24 tahun, langsung lanjut PTT, sekolah PhD, sekolah spesialis, nglamar kerja bla bla bla, maka mengubah rencana menjadi: lulus dokter di usia 24 tahun kemudian menikah dan punya anak-anak bla bla, baru melanjutkan PTT, sekolah, sekolah, kerja.

Ya, benar. Impian wanita karier akan kutunda selama kira-kira sepuluh tahun setelah aku lulus dokter. Sepuluh tahun itu akan menjadi masa reproduksi. Inkubasi. Mengasuh anak, mendidik, mengajari, menanamkan nilai-nilai pada anak-anak. Dan lagi-lagi, dengan berbekal teori plastisitas otak, teori kepribadian, dan teori lain tentang tumbuh kembang anak, maka kematangan seorang anak dikatakan sudah sempurna saat usianya mencapai 3 tahun.

Nah, katakan aku ingin punya anak 3 orang, dengan jarak antarkelahiran 3 tahun maka aku butuh waktu 12 tahun sampai anak terakhir berusia 3 tahun. Ya, 12 tahun untuk mengentaskan anak-anak sampai usia yang menurutku bisa ‘dilepaskan’. Setelah itu baru aku merasa telah menunaikan kewajiban (=keinginan alamiah) untuk menjadi sekolah bagi anak-anakku. Sehingga aku bisa melanjutkan hidupku sebagai wanita karier, yang dimulai dengan sekolah spesialis, sekolah PhD, belajar ini itu, bekerja….

Nah, nah, kemudian aku harus menilai kembali perubahan rencana itu. Benarkah itu yang terbaik? Kalau ternyata ada yang lebih baik, apakah itu? Apakah aku tetap menjalani keduanya: berkarier mulai dari usia 24 tahun, sembari berproduksi dan mendidik anak-anak? Dengan kapasitas otak dan emosiku yang seperti ini, si single-tasker dan si pemarah dan si tidak sabaran?? Atau masih ada waktukah sampai nanti aku menikah, untuk mengubah single-tasker menjadi multi-tasker, pemarah menjadi penyabar??

Haruskah kutanya ibuku, sang wanita karier yang menurutku cukup mampu mendidik anak-anak menjadi seperti sekarang (yah, setidaknya kakak dan adikku), bagaimana tips dan trik melakoni kedua peran dengan mulus: ibu rumah tangga sang pendidik anak sekaligus wanita karier?

Ya, inilah pilihan. Pilihan untuk mengambil risiko jatuh karena duduk di dua kursi (yang hebatnya, banyak orang yang ternyata sukses duduk tanpa jatuh!), atau memantapkan hati memilih satu kursi itu?




Archive

On Goodreads

Widget_logo

On Facebook


Darmawati Ayu Indraswari's Facebook profile

Love these

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 31: 27).

...

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk." (QS 2: 45)

...

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259)

...

“Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)”

...

Be true to your heart, cause your heart can tell you no lies. (Stevie Wonder & 98 Degrees' True to Your Heart)